International Photography Contest (IPC) for Kids 2014

Pin It

National Geographic sudah memublikasikan berbagai karya fotografer ternama dunia selama lebih dari 100 tahun dalam majalah dan produk-produknya. Kini, National Geographic memberikan kesempatan untuk anak-anak menjadi generasi penerus Chris Johns, Joel Sartore, dan Annie Griffiths melalui kontes foto tahunannya, International Photography Contest for Kids (IPC).

Tahun 2014 adalah kali keempat National Geographic Kids Indonesia (NG KIDS Indonesia) menjadi penyelenggara IPC di Indonesia. Setelah sempat absen pada tahun 2013, National Geographic kembali menggelar lomba foto untuk anak ini dengan empat kategori baru, yaitu Berani Menjelajah (Dare to Explore), Hewan-Hewan Hebat (Amazing Animals), Liburan Luar Biasa (Wild Vacation), dan Aneh tapi Nyata (Weird but True). Semua kategori berdasarkan rubrik tetap dalam majalah NG KIDS Indonesia.

Peserta IPC adalah anak-anak usia 6-14 tahun. Mereka bisa mengirimkan satu foto untuk setiap kategori di atas melalui e-mail, pos, atau situs Kidnesia.com. Foto-foto yang diterima akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Pemimpin Redaksi NG KIDS Indonesia, Sigit Triwahyu; Fotografer NG KIDS Indonesia, Chris Indra Sinatra; dan Fotografer National Geographic Indonesia, Reynold Sumayku. Para dewan juri akan menentukan juara untuk setiap kategori, sekaligus pemenang grand-prize tingkat nasional. Foto para pemenang nasional tadi otomatis akan diikutkan untuk penjurian IPC tingkat internasional di kantor pusat National Geographic Society (NGS), di Washington, D.C, Amerika Serikat.

Setiap pemenang IPC tingkat nasional akan mendapatkan hadiah berupa uang tunai Rp1 juta, piala, dan sertifikat. Sedangkan pemenang IPC internasional akan mendapatkan hadiah perjalanan ke Washington, D.C., Amerika Serikat sekaligus tur kantor pusat NGS; serta voucher belanja senilai US$50 dari National Geographic Store.

Pada IPC 2012, jepretan bintang laut di Pantai Raja karya Diana Poae dari Sangihe, Sulawesi Utara berhasil menjadi juara kategori Hewan (Runner-Up) tingkat internasional. Bukan hanya Diana yang menerima penghargaan internasional. Patria Prasasya dari Surabaya pun menerima penghargaan Honorable Mention kategori Humor untuk foto patung kingkong di Batu Zoo, Malang.

Runner-up kategori Hewan tingkat internasional pada IPC tahun 2012: karya Diana Poae dari Sangihe, Sulawesi Utara.

“Mata anak-anak adalah mata hati, mata yang bersih dan jernih. Sedangkan foto adalah sebuah rekaman sejarah. Rekaman sejarah dari mata anak-anak adalah rekaman yang paling jujur yang pernah ada. Harapannya, IPC for Kids ini bisa jadi salah satu penyumbang rekaman sejarah yang jujur seperti adanya,” ujar Sigit Triwahyu.

Periode pengiriman foto IPC 2014 dimulai tanggal 1 Agustus 2014 dan berakhir pada 15 Oktober 2014. Anak-anak bisa mengirimkan foto terbaik mereka lewat:
1. E-mail ke ipc2014@gramedia-majalah.com
2. Pos ke Promosi NG KIDS Indonesia. Kompas Gramedia Building Unit 1, Lantai 4. Jl. Panjang No. 8A, Kebon Jeruk. Jakarta Barat 11530
3. http://microsite.kidnesia.com/ipc2014/

Informasi lengkap tentang cara mengikuti, ketentuan lomba, teknis lomba, dan berbagai aktivitas pendukung IPC 2014 bisa didapatkan pada majalah NG KIDS Indonesia edisi Agustus, September, dan Oktober 2014; situs xykids.kidnesia.com; Twitter @NGKidsID; dan facebook National Geographic Kids Indonesia dengan tagar #ipc2014id

Dani: Manusia Pegunungan, oleh Evi Aryati Arbay

Pin It

Tanpa sadar, barangkali kaum fotografer telah ikut meletakkan corak kehidupan yang berbeda sebagai objek belaka. Datang beramai-ramai dan memotret. Begitu selesai, sebagian fotografer akan berterima kasih dan mengikat tali persaudaraan dengan yang difoto. Sebagian lainnya memberi uang sebagai imbalan. Kedua tipe itu sama juga. Setelah pulang, atau saat di ruang tunggu bandara, kita membuka internet untuk menunjukkan foto-foto itu kepada dunia: inilah kehidupan yang berbeda. Tepuk tangan. Habis perkara.

Dalam banyak situasi, proses pembuatan foto bisa singkat saja dan sesederhana itu. Akan tetapi proses yang dialami oleh masyarakat yang difoto tidaklah pernah sesederhana itu. Masyarakat Dani yang menetap di Lembah Baliem, Papua, telah terpaksa melompat terlalu jauh dan terlalu cepat.

Dari peradaban zaman batu, tiba-tiba menyaksikan burung besi raksasa melayang-layang lalu mendarat di tanah mereka. Dari kehidupan berburu dan meramu, tahu-tahu berkenalan dengan kehidupan budi daya dan bercocok tanam. Dari yang hanya mengenal ubi sebagai makanan pokok, perlahan mulai “diajak” untuk tergantung kepada beras.

Dari yang tahunya tukar-menukar, sekarang tergantung kepada uang. Untuk makan harus membeli. Untuk ini-itu harus membayar. Tentang bagaimana proses yang baik untuk mendapatkan uang atau berkehidupan secara modern, sedikit yang mengajari mereka. Mereka bergulat dengan perubahan yang sangat besar dan mendasar itu hanya dalam waktu puluhan tahun.

Di saat yang sama, datanglah orang-orang kota. Jepret-jepret membuat foto, meminta mereka berpose, lalu—entah siapa yang memulai—memberikan uang sebagai “niat baik” atau “tanda terima kasih”. Orang-orang Dani melihatnya sebagai “cara cepat” untuk mendapatkan uang yang memang semakin mereka butuhkan untuk ikut dalam peradaban modern.

Lain kali datanglah lagi orang-orang dari daerah lain, atau negeri lain. Mereka juga membuat foto-foto. Orang-orang Dani otomatis menuntut mereka membayar pula. Satu kali cekrek bayar sekian. Jurnalis datang untuk mengabarkan, mengambil foto, harus bayar pula. Tidak jarang terdengar cerita dari sana, soal keributan kecil seputar bayar-membayar sehabis memotret.

Buku karya Evi Aryati Arbay yang berjudul Dani: Manusia Pegunungan ini mengajak kita melihat suatu suku yang khas secara lebih mendalam. Sebagai seorang operator wisata, Evi memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat Dani.

Boleh jadi pada awalnya ia pun melihat komunitas ini sebagai objek. Namun, interaksi dan proses perkenalan yang intens—sekitar sepuluh tahun—telah membuatnya lebih berhati-hati. Orang Dani, dan komunitas-komunitas tradisional lainnya, sesungguhnya kurang patut diperlakukan sebagai objek. Mereka adalah subyek yang perlu didengar.

Kedekatan Evi dengan para subyek fotonya tampak, salah satunya, dari pemberian marga di belakang namanya. Evi dianggap keluarga karena sering datang.

Dalam buku ini memang terpampang foto-foto tentang pria Dani yang berpose gagah, garang, sangar, siap berperang kapan saja, hanya berkoteka, asesoris di hidung dan kepala—suatu stereotip. Akan tetapi, dalam buku ini juga terpampang sosok orang Dani yang sedang tersenyum dalam kegiatan kesehariannya. Juga terdapat foto-foto yang menggambarkan lompatan ke peradaban modern dengan sekejap. Foto-foto yang seperti itu tentu tidak dibuat dengan cara datang, foto, bayar, lalu pergi. Itu hasil interaksi yang panjang, dan karenanya memberi gambaran yang lebih mendalam.

Aristides Katoppo, mentor yang memberi kata pengantar dalam buku karya Evi, menyebutkan bahwa sebenarnya Lembah Baliem tidak cocok untuk jenis wisata massal. Sampai sejauh ini, Baliem sebenarnya masih lebih cocok untuk para spesialis yang menghormati budaya lokal.

Memang, salah satu persoalan kita dalam konteks Indonesia sebagai bangsa adalah meletakkan cara pandang yang keliru terhadap suku-suku tradisional. Dengan caranya, Evi berusaha mengambil bagian dalam upaya untuk meletakkan masyarakat Dani sebagai subyek.—Reynold Sumayku

Reynold Sumayku di Twitter

Lomba Foto “Nature & Culture of Lembata”

Pin It

Tema: Nature & Culture | Penyelenggara: Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata, NTT & Way 2 East | Lokasi: Lembata, Nusa Tenggara Timur

Ketentuan Umum:

  1. Terbuka untuk umum yaitu warga negara Indonesia dan warga negara asing dan merupakan peserta Festival Adventure Indonesia 2014 di Lembata, NTT.
  2. Way 2 East dan Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata NTT bisa mempublikasikan hasil lomba (foto dan karya tulis) yang masuk nominasi untuk kepentingan promosi pariwisata Lembata.
  3. Seluruh karya yang masuk ke panitia akan diseleksi oleh pihak juri. Nama-nama pemenang akan diumumkan melalui situs Way 2 East pada tanggal 27 September 2014.
  4. Foto tidak boleh berunsur sadisme/kekerasan, SARA, pornografi.

Ketentuan Khusus:

  1. Setiap peserta diperbolehkan mengirimkan maksimal 6 buah file foto dalam format JPEG, salah satu sisinya minimal 3000 pixel.
  2. Peserta bebas memilih objek fotografi yang berasal dari Lembata, NTT meliputi alam, ciptaan manusia, adat istiadat, budaya, peristiwa dan sebagainya. Foto dari provinsi lain tidak dapat diikutsertakan dalam penilaian.
  3. Foto yang diikutsertakan dalam lomba adalah hasil foto dari pemotretan menggunakan kamera DSLR & Mirrorless.
  4. Olah digital diperbolehkan, sebatas perbaikan kualitas foto (tonal dan warna) tanpa mengubah keaslian subjek.
  5. Tidak diperbolehkan mengirimkan foto berupa kombinasi lebih dari satu foto (komposit dan montase) dan menghilangkan/mengubah elemen-elemen dalam satu foto.
  6. Dengan mengirimkan karya foto berarti peserta telah dianggap menyetujui semua persyaratan yang telah ditetapkan oleh panitia.
  7. Karya foto yang dikirim adalah karya ciptaan sendiri, diproduksi sejak 24 s/d 27 September 2014 (yang akan dibuktikan dari data exif file foto).
  8. Pemenang wajib menyerahkan file foto asli (raw file) kepada panitia dan menjadi hak milik Dinas Pariwisata Lembata NTT.
  9. Setiap foto harus dilengkapi identitas diri peserta seperti: nama fotografer, judul foto, alamat, nomor telepon/HP, E-mail, dan identitas diri yaitu KTP (Kartu Tanda Penduduk) yang masih berlaku.
  10. Panitia berhak mendiskualifikasi foto peserta sebelum dan sesudah penjurian apabila dianggap tidak memenuhi ketentuan.
  11. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

Tata cara pengiriman foto:

  1. Mengisi form data peserta dengan lengkap dan mengunggah foto yang akan dilombakan. Nomor Telepon/HP wajib diisi untuk konfirmasi dan verifikasi finalis.
  2. Pengiriman karya dimulai tanggal 24 September 2014 dan ditutup tanggal 27 September 2014 pukul 18.00 WIB.
  3. Pengumuman pemenang lomba foto Indonesia tanggal 27 September 2014 dan hadiah akan diberikan secara simbolik.

Kategori Lomba:

  1. Culture
  2. Nature

Hadiah Pemenang:

  1. Uang tunasi
  2. Sertifikat dari Pemda, dll

Informasi Selengkapnya di Situs Panitia Lomba

Belajar dari Foto Frans Lanting

Pin It

FK-wan, bagi yang gemar membaca majalah National Geographic. Tentunya nama fotografer Frans Lanting sudah tak asing lagi ditelinga. Karya-karyanya memberikan warna tersendiri dalam halaman kotak kuning tersebut.

Foto Frans Lanting di Dead Vlei, Namibia. (c) Frans Lanting

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah “Ghost Trees at Dawn” yang diambil di Gurun Namibia. Dengan pohon yang mengering berlatar hamparan tanah nan menggelora. Frans mampu menghadirkan sesuatu yang mampu memukau kita.

Dalam sebuah wawancara dengan sebuah majalah fotografi ternama di Eropa. Frans membuka rahasianya bagaiman dia memotret pepohonan tersebut. Kontras cahaya kala itu sangat terasa pada gundukan pasir dan tanah liat. Untuk mengakalinya, Frans menggunakan filter ND untuk mengurangi kontras.

Foto yang berlokasi di Dead Vlei, Namibia, Afrika ini tentunya terlihat seperti lukisan. Namun ini merupakan karya foto yang indah. Pada saat pengambilan foto ini, Frans menggunakan Nikon D3X dengan lensa Nikon AF-S 70-200 mm. Dia menggunakan focal length 200 mm dengan aperture f/22. Dengan kondisi ini Frans mendapatkan kecepatan rana (shuter speed) selama 1/10 detik.

Latar belakang dari foto ini adalah gundukan pasir yang terkena sinar matahari pagi. Sementara warna pada tanah itu akibat warna langit. Frans benar-benar memperhitungkan waktu terbaik untuk mengambil foto ini. Ketika matahari mencapai bagian bawah dari gundukan pasir namun sinarnya belum mencapai dasar gurung, Frans baru menekan tombol shutter. Hal inilah yang menciptakan kontras yang kuat antara foreground dan background.

Filter ND tentunya menjadi solusi baik untuk menyeimbangkan antara ruang gelap dan ruang terang foreground dan backgroung. Ini tentunya bisa dipraktekan saat FK-wan hunting dalam kondisi demikian.

sumber : Digital Camera World

9 Tahun Berpetualang Keliling Indonesia

Pin It

Ebbie ketika mengabadikan Puncak Cartenz Jayawijaya

Tidak ada kata terlambat bagi Ebbie Vebri Adrian untuk menunaikan mimpinya membuat buku yang mendokumentasikan ribuan destinasi wisata dan budaya di 34 provinsi di Indonesia lengkap dengan gambar yang indah. Beragam resiko dan tantangan harus dia lalui pada awalnya untuk menuntaskan misi ini, diantaranya dimarahi oleh keluarga, dianggap pahlawan kesiangan, sok nasionalis, hingga diputuskan oleh pacar tercinta.

Banyak resiko besar dihadapi selama diperjalanan baik itu karna faktor alam ataupun faktor dari manusia tidak membuatnya gentar dan menyurutkan nyali untuk terus menjelajah Indonesia. Semua dia jalani dengan sepenuh hati untuk mewujudkan satu tujuan, memenuhi rasa penasaran, hasrat dan cita-cita menghasilkan buku Indonesia yang komplit memuat keindahan alam, flora fauna dan keberagaman budaya yang dicintainya. Ia bertutur, seandainya saja sudah ada fotografer yang melakukannya dulu, maka ia tidak akan bersusah payah berkeliling Indonesia untuk melakukan ini semua.

Cartenz Papua
Cartenz Papua

Semua berawal di akhir tahun 2004, Ebbie yang merupakan seorang anak pencinta alam yang tidak suka foto dan difoto gemar sekali membaca dan mengoleksi buku terutama buku-buku tentang Indonesia yg bertemakan alam, petualangan, flora fauna, yang pada akhirnya membawa dia kepada sebuah pertanyaan besar.

Kenapa buku-buku yang dibelinya itu semua ditulis oleh orang “bule” alias orang asing?  Orang Indonesia dengan 250 juta penduduk pada kemana kok nggak ada yang bikin buku Indonesia yang lengkap?

Sejuta pertanyaan berputar dibenaknya.. Apa kendalanya sehingga tidak ada yg mau membuatnya? Apa karna malas? Butuh biaya yg sangat besar? atau sebab lainnya?
Sehingga muncul kesimpulan yg Ebbie temukan “mungkin” orang-orang bule itu berfikir, tidak ada orang Indonesia yang membuatnya maka “kami akan membuatkannya”.

Seandainya sedari dulu orang-orang Indonesia sangat produktif membuat buku tentang kekayaan negeri sendiri, rasanya orang-orang bule tersebut akan berpikir ulang untuk ikut membuat buku tentang Indonesia.

Di satu sisi, karya bule-bule ini sangat membantu terutama untuk mengisi kekosongan karya tulis tentang Indonesia. Namun mungkin karena tujuannya komersial, selalu saja ada yang kurang dan itu membuat Ebbie tidak pernah puas menikmati buku tentang Indonesia yang ditulis oleh mereka.

TN Tanjung Puting
TN Tanjung Puting

Upaya mendokumentasikan Indonesia dalam bentuk buku menurutnya masih sepotong-potong dan tidak lengkap, beberapa tahun lalu saat Indonesia masih 33 provinsi, paling banyak hanya kisaran 20-25 provinsi saja yang diwujudkan dalam 1 buku. Ada upaya lainnya untuk mendokumentasikan buku foto Indonesia yang dilakukan oleh 30-50 orang, tetapi itupun masih belum lengkap juga. Menurutnya baru sebatas memajang sekumpulan foto bagus.

Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Alasan itulah yang memaksanya untuk membuat sebuah buku destinasi Indonesia yang lengkap berisi wisata, alam, budaya, underwater, flora, dan fauna hingga aerial atau foto udara apapun tentang Indonesia yang unik dan lengkap per provinsi dalam 1 buku utuh.

Upayanya mencari buku ini membuatnya jalan-jalan berkeliling dunia dan ketika dia memastikan bahwa buku tersebut tidak ada yang pernah membuat, tekadnya semakin bulat.

Memulai dari minus

Bagaimana membangun dan merealisasikan mimpi tersebut? Bagimana bisa Ebbie yang tidak menyukai foto berani membuat sebuah buku yang lengkap dengan pendekatan fotografi yang prima. Akhir 2004 dia mengatakan tidak menyukai memotret, bahkan kamera sakupun tidak punya. “Apa di dunia ini yang tidak bisa dipelajari?”. Filosofi ini yang kemudian membawa Ebbie berani untuk memulai langkah pertamanya di awal tahun 2005.

Curug Sewu, Kendal dan Laut Karimun Jawa
Curug Sewu, Kendal dan Laut Karimun Jawa

Belajar fotografi melalui kursus tidak ditempuh olehnya. Menurutnya, belajar melalui kursus itu terlalu mudah, dia menginginkan yang lebih sulit, dia ingin susah. Cara termudah adalah dengan otodidak, alias belajar trial dan error sendiri. Melalui buku panduan kamera, internet, semua dipelajari, meskipun diamini pada saat itu belajar melalui metode ini banyak keterbatasan, tidak seperti mudahnya belajar fotografi saat ini yang bisa diakses dan gratis terutama melalui internet.

Tahun 2004 ia memutuskan menjual usahanya di bidang komputer dan internet, termasuk mengumpulkan uang tabungannya dan menjual segala yang ia punya untuk modal perjalanan berkeliling Indonesia. Dengan modal tersebut, salah satunya dialokasikan untuk membeli perlengkapan fotografi. 5 hingga 6 bulan pertama hasil fotonya benar-benar tidak bagus malah bisa dibilang hancur. Ia berujar semua memang dilakukannya sendiri tanpa bertanya kepada satu orangpun tentang fotografi. Setelah mengotak-atik dan tekun belajar setiap hari, akhirnya hasil fotografinya sudah relatif stabil.

Museum Bali
Museum-museum di Bali

Semua keahlian fotografinya berjalan seiring waktu, termasuk kemampuannya mendokumentasikan bawah laut juga tidak instan meskipun keahlian menyelam sudah dikuasainya ketika menjadi anak pencinta alam.

Dengan modal “Bismillah” Ebbie memulai perjalanan panjang ini. Tidak ada rencana dan arah yang baik bagaimana ia harus memulai perjalanan ini. Dia tahu, uang yang dimilikinya tidak akan cukup. Tapi Ia berfikir nekat, meski sadar bahwa biaya mengelilingi Indonesia akan sangat mahal sekali.

Dugaannya benar, dalam 3 tahun pertama, uang yang dikumpulkannya habis. Perjalanan non stop yang panjang ini membuatnya terkadang lelah dan jenuh. Untuk mengatasi itu, sesekali Ia beristirahat di rumahnya di Yogyakarta untuk sekedar memulihkan stamina dan mempersiapkan penjelajahan berikutnya.

Untuk destinasi yang dikunjungi oleh Ebbie dilakukan tidak terstruktur karna mengikuti iklim di Indonesia antara barat dan timur yang tidak sama. Dimana provinsi yang sedang “musim panas” maka ia akan menuju kesana. Apabila di provinsi tersebut sudah mulai hujan ia akan pindah ke provinsi lainnya yang cerah.

Ebbi-vebrian-Jomblang
Ebbi mengabadikan goa Jomblang
Goa Grubuk Jomblang
Goa Grubuk Jomblang

Rencana awalnya sangat sederhana, ingin membuat buku yang lengkap per provinsi, sisanya akan mengalir. Apapun keunikan alam, budaya dan hal lainnya dia dokumentasikan dengan lengkap. Yang unik, hanya wisata kuliner yang tidak dia masukan dalam buku, karena takutnya jomplang, karena nanti akan merembet ke nama restoran, hotel, dan lain-lain.

Untuk memudahkan kerja dalam membuat list pemotretan obyek foto, Ebbie menggunakan bermacam buku dan brosur-brosur wisata, salah satunya buku Lonely Planet. Destinasi apa saja yang ada di buku tersebut dia dokumentasikan, tapi sudah pasti apa yang dia punya belum tentu ada di dalam Lonely Planet.

Pilihan membuat buku fotografi

Lalu apa beda buku Indonesia yang Ebbie buat dengan buku sejenis Lonely Planet yang mencoba memberikan panduan lengkap tentang Indonesia?
Kalau Lonely Planet lebih banyak informasi tapi sedikit dan bahkan minim foto. Karena menggunakan pendekatan tulisan inilah ia menemukan banyak hal yang tidak update lagi. Banyak hal yang ditulis di buku itu sudah berubah banyak di lapangan.

Pengalaman tersebut membuatnya merasa “dibohongi”, karena buku yang dia bawa keliling Indonesia tersebut tidak update baik soal rute, akomodasi, hotel yang sudah tutup, tarif yang berbeda, hingga informasi yang katanya untuk mencapai suatu tempat harus mendaki 3 hari ternyata sudah ada jalan mobil.

Ebbi-Toraja
Ebbie bersama motornya ketika tiba di Toraja

Tempat yang katanya indah ketika ia temui dilapangan ternyata biasa sekali. Menurutnya mata orang asing dan dirinya sangat berbeda. Tulisan bisa saja membohongi pembaca karna tanpa dilengkapi dengan foto-foto. Di titik inilah Ebbie memutuskan bahwa fotolah yang harus lebih berbicara dan mendapatkan porsi yang banyak. Tulisan menjadi nomor 2 dalam buku ini, hanya sebagai pelengkap yang menjelaskan foto.

Melalui foto, pembaca di ajak menilai apakah tempat tersebut bagus atau tidak. Karena bagus itu menurutnya relative bagi setiap orang. Dia ingin foto yang berbicara. Silakan pilih foto yang menurutnya sesuai dengan pilihannya, dari kota hingga pedalaman. Dari bawah laut hingga atas gunung.

Taman-Safari
Taman-Safari

Untuk alasan inilah ia memposisikan diri sebagai kurator untuk  memilih destinasi yang menurutnya sangat baik dan layak dibagikan kepada semua orang. Kurasi inilah yang akhirnya memudahkan pembaca memilih destinasi yang menurutnya sesuai dengan kesukaannya. Tidak suka gunung ada laut, bisa menjajal wisata sejarah, bahari hingga museum.

Karena didasarkan dengan pilihan obyek yang menurutnya terbaik berdasarkan pengalaman langsung, maka Ebbie otomatis tidak memasukan semua obyek wisata yang ada di setiap provinsi, hanya yang terbaik yang terpilih. Misalnya dari ratusan pantai di sebuah provinsi hanya beberapa pantai terbaik yang dia pilih, ia ingin orang yang sudah jauh-jauh datang berkunjung tidak merasa tertipu.

Ebbie bisa memastikan pilihannya terbaik karena Ia mengunjungi obyek tersebut satu persatu dan merasakannya langsung. Karena itulah perjalanan membutuhkan waktu yang sangat panjang dan menguras tenaga juga memakan biaya yang mahal. Lebih dari 2000 destinasi wisata ia jelajahi dan menghasilkan ratusan ribu foto yang bisa dibuktikan dan dipertanggungjawabkan keasliannya.

Benteng Jawa Tengah
Benteng-benteng di Jawa Tengah

Untuk pengerjaan bukunya, awalnya semua dilakukan sendirian. Mulai dari memotret, mengkurasi, konsep, mendesign layout hingga text. Namun akhirnya dengan beberapa pertimbangan Ebbie menurunkan idealismenya. Untuk layout dan peta dia meminta rekannya untuk membantunya.

Sementara kurasi ia tetap menjadi kurator sendiri, karena memang hanya dia yang tahu foto yang diambilnya dengan segala pertimbangan dan cerita dibaliknya, jadi bukan hanya sekedar foto yang indah.

Cartenz, dan “Near Death Experience”

Dari seluruh foto yang dia kumpulkan selama 9 tahun, ada beberapa obyek yang sangat sulit sekali dia abadikan. Tidak lain dan tidak bukan, Puncak Cartenz di pegunungan Jayawijaya. Bukan hanya sulit karena harus diambil dari atas udara dengan menggunakan helikopter tetapi juga sulitnya mengurus perizinan. Untuk bisa mengambil gambar puncak Cartenz, kita memasuki wilayah sebuah pertambangan. Untuk itu sejumlah perizinan dan kesiapan teknis harus disiapkan dan itu membutuhkan biaya yang besar.

Beruntung, lewat sebuah penantian panjang, dia mendapatkan akses memotret menggunakan helikopter berkeliling pegunungan Jayawijaya dari perusahaan tambang tersebut. Ganjarannya adalah foto itu menjadi salah satu foto pembuka buku INDONESIA The World Treasure.

Cartenz-Papua
Cartenz-Papua

Lalu apa hal yang membuatnya sedih dalam pengerjaan buku ini? Yaitu ketika hardisk foto yang belum sempat dibackupnya crash. Hilang, meskipun ada beberapa foto yang masih bisa diselamatkan, namun kehilangan momen, biaya dan juga semangat mungkin akan sulit dia bangun kembali apabila hasil fotonya hilang. Berdasarkan pengalaman itu, Ebbie kemudian sangat berhati-hati menyimpan datanya. Beberapa hardisk dia siapkan termasuk menyebarnya tidak hanya di satu tempat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Hal seru lainnya yang berkesan selama pembuatan buku ini? Terhitung 4 kali Ebbie baku hantam dengan warga lokal yang menjadi fixernya, lebih ke perdebatan terkait dengan bayaran atas jasa transport atau porter yang sudah disepakati.

Pulau Komodo
Taman Nasional Komodo

Atau pengalaman nyaris mati, seperti kram setengah badan ketika berenang di Pink Beach Pulau Komodo dan terseret ombak palung di Sumbawa. Tapi ada satu tempat yang membuatnya berfikir berkali-kali untuk dikunjungi apabila dia mendapatkan kesempatan lagi, WAKATOBI.

Di Wakatobi dia mengalami 2 kali “apes” yang membuatnya kapok datang kembali. Pertama tahun 2007 ketika kapal motor yang ditumpangi mesinnya pecah di tengah lautan tanpa makanan dan hanya ada air mineral satu botol kecil dan memaksanya bertahan hidup dilautan dengan terombang-ambing selama tiga hari sebelum diselamatkan oleh tim SAR. Apes ke-2 yaitu tahun 2012 ketika mencoba kembali ke Wakatobi untuk diving selama seminggu disana dan memotret underwater. Baru hari pertama sampai disana Ebbie sudah kecelakaan parah saat dibonceng motor sesudah memotret sunset di atas bukit!

Semua pengalaman ini tak menyurutkan dirinya untuk mundur, pantang untuk berhenti di tengah jalan. Seluruh pengalaman ini membuatnya memiliki intuisi yang kuat untuk bisa membaca problem sebelum melakukan perjalanan menelusuri suatu daerah.

Kover Buku Foto Indonesia
Kover Buku Foto Indonesia “The World Treasure”

Pengalaman dan cerita panjang mengumpulkan foto yang indah dari seluruh Indonesia sesaat lagi akan tiba ditangan kita. Buku INDONESIA The World Treasure setebal 530 halaman hard cover, berisi 1400 foto-foto di 34 provinsi Indonesia. Dengan ukuran 24 x 33 cm, total berat buku hampir 4 kg ini layak untuk dikoleksi bagi kita khususnya fotografer dan traveler yang ingin mengenal Indonesia secara dekat dan lengkap.

Gua Tewet Sangkulirang Kaltim
Gua Tewet Sangkulirang Kaltim

Dengan penyajian foto yang secara teknis memiliki standar kualitas fotografer National Geographic Anda pasti akan puas dan betah berlama-lama menikmati halaman demi halaman buku ini. Meskipun Ebbie menyadari masih banyak kekurangan, setidaknya dia berhasil merealisasikan mimpi dan cita-citanya membuat buku ini.

Sumbangsihnya sangat berharga untuk kemajuan dunia pariwisata dan buku fotografi di Indonesia. Imaji dalam buku ini akan menjadi saksi dan tidak akan lekang dan akan menjadi bagian dari sejarah. Tugas kita bersama untuk mengapresiasinya dan mendapatkan inspirasi untuk lebih cinta kepada Indonesia.

Foto: Ebbi Vebri Adrian & Purwo Subagiyo (repro buku foto Indonesia “The World Treasure”)

Salam
Purwo Subagiyo
@purwoshop

5 Tablet Terbaik Untuk Teman Perjalanan FK-wan

Pin It

Fk-wan, perjalanan yang nyaman tentunya menjadi idaman kita. Meskipun jauh dari rumah, tetap tersambung dengan orang terdekat dan melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan, hingga menikmati hiburan dari genggaman. Berikut ada lima tablet terbaik yang ada dipasaran saat ini yang mampu memberikan FK-wan pengalaman terbaik dalam genggaman.

iPad Mini with Retina Display. (apple.com)

1. iPad Mini with Retina Display
Layarnya berukuran 7,9 inci. Tentu saja layar super tajam Retina Display mereka menjadi yang diunggulkan oleh Apple. Resolusi layarnya sebesar 2048 x 1536. Pada iPad ini Apple menanamkan Chip A7 untuk kinerja yang lebih cepat. Dengan kehadiran prosesor ini, Apple mengklaim bahwa pengguna bisa perangkat ini bisa bekerja cepat tanpa boros daya tahan baterai. Perangkat ini memiliki daya tahan baterai hingga 10 jam. FK-wan tidak perlu repot-repot mengisi ulang saat menggunakannya seharian. Perangkat ini bekerja dengan sistem operasi iOS7, Apple sudah menambahkan iPad mini dengan aplikasi mulai dari iPhoto, GarageBand, hingga Keynote.

Samsung Galaxy Tab 2. (samsung.com)

2. Samsung Galaxy Tab S
Samsung mengunggulkan layar tablet terbaru mereka yang berjenis Super AMOLED dengan resolusi hingga 2500 x 1600. Tampilannya mirip dengan Galaxy S5 dengan ukuran yang lebih besar. Termasuk cover bagian belakang dari bahan plastik dengan tekstur bintik-bintik. Tablet ini menjadi yang tertipis diantara tablet keluaran Samsung, sehingga menjadi cukup ringan. Dilengkapi dengan kamera 8 megapiksel, dengan LED flash. Samsung menempatkan prosesor Exynos Octa Core. RAM nya 3G dengan memori penyimpanan internal sebesaf 16GB, Tersedia dalam dua ukuran layar, 8.4 inci dan 10.5 inci.

Sony Xperia Z2 Tablet. (sonymobile.com)

3. Sony Xperia Z2 Tablet
Dengan ukuran 10.1 inci, FK-wan bisa mendapat paket lengkap. Sony menawarkan akses mudah ke koleksi musik dan filmnya. Sony menghadirkan prosesor 2, GHz Qualcomm Quadcore. Z2 Tabletmemiliki memori penyimpanan internal hingga 16GB dan RAM 3GB. Kamera belakang beresolusi 8.1 megapiksel. Sedangkan kamera depan 2.2 megapiksel. Selain cukup tipis dan ringan untuk ukurannya ini, Sony menambahkan fitur lainnya yang menjadi andalan untuk rangkaian produk premium mereka, tahan air. Dapat dimasukkan kedalam air sedalam 1,5 meter selama 30 menit.

Microsoft Surface Pro 3. (microsoft.com)

4. Microsoft Surface Pro 3
Masih harus memikirkan banyak pekerjaan saat melakukan perjalanan? Tablet 2 in 1 ini cocok untuk FK-wan bawa. Ukurannya memang 12 inci, tapi Microsoft membuat ini dapat digunakan sebagai notebook dengan tambahan keyboard. Resolusi layarnya cukup besar, 2160 x 1140. Kamera depan dan belakang sama-sama memiliki resolusi 5 megapiksel. Surface Pro 3 menggunakan Intel Core i5 dengan RAM 8GB dan SSD sebesar 256GB. Spesifikasinya ini membuat FK-wan dapat melakukan pekerjaan dengan cepat meskipun sedang dalam perjalanan.

Nexus 7. (google.com/nexus)

5. Nex Nexus 7
Nexus 7 terbaru ini masih tetap berukuran 7 inci untuk layarnya, tapi lebih tipis dengan yang sebelunya. Memiliki layar dengan resolusi 1920 x 1200 dan dilapisi dengan Gorilla Glass. Prosesor Qualcomm Snapdragon S4 Pro turut ditancapkan dengan RAM 2GB. Kamera belakangnya memiliki resolusi sebara 5 megapiksel, sedangkan bagian depan memiliki resolusi 1,2 megapiksel. Daya tahan baterainya terbilang baik dengan ketahanan hingga 8,5 jam.

Nah, FK-wan tertarik memiliki perangkat yang mendukung perjalanan FK-wan? Silahkan pilih sesuai dengan pertimbangan yang sudah FK-wan putuskan.

sumber: Majalah Travel Fotografi

Pendekatan fotografi portrait aktor legendaris Robin Williams

Pin It
Photographed by Mary Ellen Mark in San Francisco in 1998
Photographed by Mary Ellen Mark in San Francisco in 1998

http://lightbox.time.com/2014/08/12/robin-williams-dead/?iid=lb-gal-viewagn#5

Robin Wiliams, aktor legendaris dan komedian ternama meninggal dunia 11 Agustus 2014 dirumahnya Marin County, Calif. Polisi memastikan kematiannya disebabkan oleh bunuh diri selasa sore keesokan harinya. Sungguh cara mengakhiri hidup yang tragis dari komedian Robin Wiliams, dunia berduka, banyak yang merasakan kehilangan aktor serba bisa tersebut.

Untuk menandai kepergiannya, TIME melakukan seleksi terhadap beberapa foto portrait Robin Wiliams yang pernah dipublikasikannya. Untuk majalah TIME edisi terbaru bulan agustus 2014, foto portrait Robin Wiliams yang diambil oleh Nigel Parry di kota New York City tahun 2007 didaulat menjadi kover majalah TIME.

Robinwilliams-Time-cover-Nigel Parry-CPI
Photographed by Nigel Parry in New York City in 2007 Read more: Robin Williams: Photographers Remember a Legendary Actor – LightBox http://lightbox.time.com/2014/08/12/robin-williams-dead/#ixzz3AKB57NPl

Beberapa catatan penting dari seleksi foto portrait Robin Wiliams yang dilakukan oleh TIME adalah kita bisa mempelajari banyak hal tentang teknik pemotretan tokoh terutama karakter komedia. Komedia yang divisualisasikan dengan perasaan dan karakter yang riang tidak harus dibekukan dengan konsep seperti itu.

Foto portrait karya Dan Winters tahun 2002 menjadi foto dan pose yang standar wajib dilakukan oleh semua fotografer dalam melakukan foto potret, selebihnya kita bisa melakukan kreasi dengan konsep yang berbeda dan bahkan out of the box sesuai penafsiran kita sebagai fotografer.

Photographed by Dan Winters in 2002
Photographed by Dan Winters in 2002

http://lightbox.time.com/2014/08/12/robin-williams-dead/?iid=lb-gal-viewagn#2

Konsep portrait yang berbeda coba ditawarkan oleh Martin Schoeller untuk The New Yorker tahun 2002. Konsepnya bahkan dianggap sangat liar dan dia yakin akan banyak editor yang tidak akan memuat fotonya.

williams_robin_Martin Schoeller
Photographed by Martin Schoeller for The New Yorker in 2002

http://lightbox.time.com/2014/08/12/robin-williams-dead/?iid=lb-gal-viewagn#6

Lain lagi dengan karya Gavin Bond untuk British GQ di tahun 2012. Karakter Pinokio yang lucu dihadirkan untuk konsep pemotretan ini. Betapa keahlian pendekatan yang baik perlu dilalukan seorang fotografer untuk meyakinkan kepada modelnya bahwa konsep foto portraitnya sangat kuat, karena kita semua tahu bahwa pinokio kalau berbohon hidungnya akan memanjang.

Photographed by Gavin Bond for British GQ in 2012
Photographed by Gavin Bond for British GQ in 2012 18 Jan 2012 — Robin Williams — Image by © Gavin Bond/Corbis Outline

http://lightbox.time.com/2014/08/12/robin-williams-dead/?iid=lb-gal-viewagn#7

Ada senang, ada kesedihan, ada ruang publik, dan ada ruang penuh privasi. Fotografer Art Streiber untuk Rolling Stone Magazine tahun 2008 berhasil merekam suasana dibalik panggung aktor Robin Wiliams, sangat personal karena hanya ada mereka berdua.

Photographed by Art Streiber for Rolling Stone Magazine in 2008
Photographed by Art Streiber for Rolling Stone Magazine in 2008

http://lightbox.time.com/2014/08/12/robin-williams-dead/?iid=lb-gal-viewagn#9

Ketika semua kembali ke dunia nyata, semua kembali berbeda, itulah Robin Wiliams sang aktor dan komedian yang bisa selalu terlihat ceria untuk kita semua. Karya fotografi ini akan menjadi kenangan akan seorang tokoh yang dicintai banyak orang.

Foto-foto selengkapnya Robin Wiliams bisa dilihat di http://lightbox.time.com/2014/08/12/robin-williams-dead/?iid=lb-gal-viewagn#1

Salam
Purwo Subagiyo
@purwoshop

1 Hour Photo aplikasi nostalgia film hitam putih

Pin It

Foto: Purwo Subagiyo

Seberapa sering Anda mengambil gambar, baik menggunakan kamera DSLR, ataupun smartphone dan sering kali mereview hasilnya? Kebiasaan ini, disadari atau tidak hadir bersamaan dengan masuknya era fotografi digital. Dengan kemajuan teknologi, kita bisa melihat secara langsung hasil jepretan kamera di layar lcd atau smartphone kita saat itu juga setelah memotret.

Kebiasaan ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya kita bisa segera melihat hasilnya sehingga bisa mengambil ulang gambar jika terjadi kesalahan. Kekurangannya? Kita membiasakan diri menjadi lengah dan tidak fokus kepada obyek foto. Tentunya hasilnya akan berbeda jika kita fokus pada obyek dan tidak memikirkan hasilnya segera di layar LCD.

Momen memotret dengan roll film, lalu menunggu hasilnya selama 1 jam di lab foto sekarang bisa hadir kembali sensasinya melalui aplikasi 1 Hour Photo yang bisa diunduh gratis di itunes.

1-Hour_Photo
https://itunes.apple.com/us/app/1-hour-photo/id871725403?mt=8

Aplikasi ini hadir seperti kebanyakan aplikasi foto mobile yang ada dipasaran seperti instagram, flickr, dll. Kalau aplikasi foto mobile kebanyakan menawarkan kemampuan editing tonal warna pasca pemotretan dengan beragam variasi filternya, aplikasi 1 Hour Photo menawarkan sesuatu yang beda, sensasi menunggu foto hasil pemotretan selama satu jam menjadi nilai jual yang berbeda yang tidak dimiliki aplikasi lain.

NTravelerID 1hour photo

Secara tampilan aplikasi ini juga hadir dengan sederhana. Hanya ada 1 tombol shutter dan display di kanan dan kiri yang menyajikan informasi berapa foto yang sudah diambil, jumlah antrian foto yang diproses dan waktu yang dibutuhkan untuk memproses foto.

Keunggulan lain? Nevercenter Ltd. co, perusahaan yang mengembangkan aplikasi ini mengklaim bisa menyajikan emulsi foto khas hitam putih yang indah seperti sewaktu kita menikmati foto hitam putih di jaman roll film.

Ini salah satu contoh warna hasil hitam putih dari aplikasi ini, dan ternyata hanya warna BW yang memang disediakan, tidak ada warna lain apalagi beragam filter yang aneh2 :)

NGtravelerID BW
Photo: Purwo Subagiyo

Sebagai sebuah aplikasi mobile fotografi, saya menilai aplikasi ini sudah cukup baik. Hanya kekurangannya saya agak kesulitan ketika mengoperasikan aplikasi ini karena tombol shutternya terlalu besar, ketika akan mengambil gambar keseimbangan tangan menjadi berkurang dan membuat gambar cenderung bergoyang dan tidak fokus. Ini berbeda dengan tombol shutter milik instagram yang lebih kecil sehingga kendala ini tidak terjadi.

Untuk mencoba aplikasi ini teman-teman silakan mengunduhnya di: https://itunes.apple.com/us/app/1-hour-photo/id871725403?mt=8

Oia kalau sudah mencoba, jangan ragu untuk berbagi info hasilnya di sini yah :)

Salam
Purwo Subagiyo
@purwoshop

JVC Luncurkan Action Camera Adixxion GC-XA2

Pin It

Pasar action camera seolah menjadi dunia baru yang menjanjikan akhir-akhir ini. Setelah sejumlah merek dagang seperti GoPro, Sony, iOn, Drift, Liquid Image, dan Contour menghiasi etalase di pasar action camera, kini JVC turut mengambil peruntungan terjun di segmen tersebut.

JVC Adixxion GC-XA2

Besutan pertama dari JVC adalah Adixxion GC-XA2 yang dirancang dengan kekuatan luar biasa seperti splashproof, waterproof (5 meter), shockproof (2 meter), tahan debu, dan juga freezeproof tanpa membutuhkan housing tambahan. Selain itu, kamera ini juga memiliki layar LCD 1,5 inci dan built-in Wi-Fi.

JVC juga melengkapi generasi penerus Adixxion GC-XA1 tersebut dengan sensor BSI CMOS beresolusi 8 Megapixel dan perekaman gambar dalam format 1080p pada 60 fps, serta 720p pada 120fps untuk slow motion playback. Dalam tubuh Adixxion GC-XA2 tertanam lensa f/2.4 format baru dengan sudut pandang 137 derajat saat merekam di 1080p, 720p dan resolusi WVGA atau 152 derajat dalam format 960p dan untuk foto. Sensor gyro juga telah ditambahkan untuk meningkatkan stabilisasi gambar pada kamera.

JVC meningkatkan action camera ini dengan built-in Wi-Fi dan kamera yang juga dapat digunakan sebagai jalur akses untuk streaming video langsung ke smartphone atau Ustream. Anda juga dapat meng-upload hasil gambar dan rekaman ke YouTube atau men-transfer gambar bukan video ke perangkat Anda. Kehadirannya di pasaran juga dilengkapi dengan aplikasi Adixxion apps ter-update yang tersedia untuk iOS dan Android.  Feature unik lainnya adalah Quad View yang memungkinkan Anda secara bersamaan melihat aliran gambar dari empat kamera Adixxion.

Pada dasarnya, meskipun desain kamera terlihat sama, JVC melakukan perombakan di bagian dalam. Dengan begitu membuat kamera ini menjadi action camera yang jauh lebih baik dari pendahulunya. Menurut situs CNET, perangkat baru dari JVC ini dibanderol dengan harga sekitar US$300.

Informasi lebih lanjut tentang kamera ini bisa mengunjungi website JVC Adixxion.

sumber: chip.co.id

Panduan Memilih Peralatan Untuk Arsitektur Fotografi

Pin It

FK-wan, properti menjadi salah sektor yang sangat berkembang belakangan ini. Elemen yang ada didalamnya, seperti interior designer, jasa arsitek, hingga hal-hal untuk memperindah properti menjadi satu kesatuan yang utuh. Bidang ini juga turut menumbuhkan berbagai macam hunian mewah, resort, dan cafe-cafe yang berorientasi terhadap gaya yang beragam.

Interior Hotel Hermitage di Menteng, Jakarta Pusat. (Foto:Yunaidi)

Ini bisa menjadi celah bagi fotografer untuk menekuni bidang fotografi ini. Nah apakah FK-wan berpikiran untuk memulai bisnis arsitektur fotografi? Atau malah menekuni hobi ini dengan serius?

Mungkin beberapa hal dibawah ini akan membantu FK-wan dalam memulai dan menekuni arsitektur fotografi.

1. Memilih Lensa Yang Tepat

Hal terpenting dalam fotografi arsitektur adalah lensa. Pilihan lensa wide menjadi hal lumrah untuk menangkap bagian dari interior maupun eksterior yang akan FK-wan foto. Pilihlah lensa wide dengan kualitas baik agar hasil yang dihasilkan tidak mengecewakan. Jangan berpikiran untuk menggunakan wide-converter, hasilnya tidak aka memuaskan.

2. Ultra Wide-Angle Peralatan Terpenting

Unfug fotografi arsitektur, rentang lensa yang FK-wan butuhkan sekitar 16 mm – 24 mm. Tergantung sensor yang FK-wan gunakan, apakah full frame, apsc, atau four-thirds. Untuk full frame FK-wan bisa menggunakan lensa 14mm, 16-35 mm atau untuk sensor APSC bisa menggunakan lensa 10-22 mm.

3. Penggunaan Body DSLR

Pada tahap awal, dengan biaya yang cukup terjangkau FK-wan bisa menekuni arsitektur fotografi dengan DSLR bersensor APSC atau Four-Thirds. Namun untuk sebuah hasil yang maksimal, memilih kamera bersensor full frame tentu akan memberikan FK-wan sebuah hasil yang maksimal.

4. Setidaknya Butuh Satu Flash

Cahaya adalah hal yang paling penting dalam fotografi arsitektur. Setidaknya FK-wan memiliki lampu flash untuk membantu FK-wan dalam menghasilkan foto arsitektur. Sebaiknya FK-wan tidak terlalu bergantung dengan perangkat pengolah foto. Maksimalkan hasil dari kamera terlebih dahulu. Untuk memolesnya supaya lebih maksimal, opsi menggunakan perangkat lunak bisa menjadi pilihan.

5. Lensa Kit

Lensa ini tidak cukup lebar untuk digunakan saat memotret arsitektur. Focal length yang agak sempit akan menyulitkan FK-wan untuk mengambil foto interior ataupun eksterior.

6. Tripod Kokoh

Dalam pengambilan foto arsitektur, tripod yang kokoh untuk menopang kamera tentunya akan berdampak pada hasil. Selain itu, tripod dengan kemudahan untuk mengatur posisi ballhead akan turut mempesingkat waktu kerja.

7. Tripod Untuk Flash

Pada kondisi tertentu, FK-wan membutuhkan flash yang diletakkan di posisi yang diinginkan. Penggunaan tripod untuk flash akan membantuk FK-wan dalam bekerja.

8. Flash Eksternal

FK-wan membutuhkan trigger untuk membuat flash eksternal ini bekerja. Penggunaan trigger ini bisa memudahkan FK-wan untuk memindahkan posisi flash sesuai kebutuhan.

9. Penggunaan Filter Polarise

Saat mengabadikan eksterior, penggunaan filter polarise akan membantu FK-wan dalam mengendalikan pantulan, kepekatan warna, hingga langit.

10. Software Pengolah Foto

Untuk mengolah foto yang sudah diambil, FK-wan bisa menggunakan Adobe Lightroom dan Photoshop untuk mengoreksi distorsi yang terjadi pada foto.

Demikian tips singkat ini, smog memacu kita untuk mengabadikan arsitektur semakin baik.

Sumber : Photography for Real Estate