[Kisah Anda] Pulau Gambar, Berdamai dengan Alam

Teks oleh Teddy Wahyudhy Pasaribu
Foto oleh Iswan Kaputra

Revolusi hijau telah memperkenalkan model pertanian modern yang serba instan dan sarat dengan produk kimia yang pada akhirnya memenjarakan petani ke dalam sebuah bentuk ketergantungan dan biaya produksi yang melangit. Sementara, semenjak dulu nenek moyang kita telah belajar dari alam tentang model pertanian yang menghargai dan selaras dengan alam.

Bertandanglah ke Pulau Gambar. Nama dari sebuah desa yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Serdang Bedagai. Lintasilah ruas jalan desanya yang kecil dan belum beraspal. Di kedua sisi jalan itu, ada lautan sawah yang sebahagian padinya mulai menguning dan rumah-rumah bersahaja dijaga pepohonan. Menegaskan secara kasatmata bahwa desa ini adalah desa yang masih berdamai dengan alam.

Sekilas desa ini tampak biasa: Petani yang kebanyakan lelaki menjerang keringat di ladang dan persawahan, truk hilir mudik mengangkat hasil panen dan anak-anak sibuk dengan sekolah mereka. Tetapi jika diamati lebih dalam, akan terlihat nuansa perseteruan antara kearifan lokal model pertanian tradisional yang kini semakin memudar dengan menjamurnya modernitas pola pertanian akibat dari gempuran revolusi hijau.

“Saya sudah hampir sepuluh tahun menanam cabai. Dan kendala yang paling saya rasakan kalau pupuk lagi langka di pasaran, apalagi sekarang pupuk makin mahal dan susah untuk mendapatkan yang bersubsidi,” Ungkap Ponijo, salah seorang petani di desa itu yang menggantungkan hidupnya dari hasil panen setengah hektare ladang cabainya.

Langka dan mahalnya pupuk di pasaran membuat para petani kalang kabut memikirkan nasib sawah ladangnya yang (menurut sebagian besar petani) takkan mungkin bisa menuai panen apabila tanaman dan tanah mereka tak diberi makan pupuk pabrikan. Ini merupakan salah satu gambaran nyata akibat dari pola pertanian modern yang pada akhirnya membuat petani kehilangan kemampuannya untuk mengatasi persoalan pertaniannya dengan menggunakan potensi lokal yang ada. Akibatnya, biaya selama proses tanam yang harus dikeluarkan petani semakin besar dan meningkat setiap tahunnya.

“Sekarang ini semakin sulit, untuk setengah hektare ladang cabai saya itu modalnya kalau lima juta saja masih kurang; untuk beli bibit unggulnya, buat bedengannya. Belum lagi untuk plastik pembungkusnya. Tapi yang paling banyak makan biaya itu ya beli pupuk untuk perawatannya semisal HCL, P 36, CSP, NPK nya.”

Persoalan lain yang kemudian mencuat adalah mengenai jatuhnya harga jual hasil panen, sehingga tak jarang petani mengalami kerugian. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini terjadi adalah pola pertanian modern yang menerapkan model kawasan monokultur, dimana petani-petani di musim yang sama menanam jenis tanaman yang sama sehingga ketika musim panen-yang biasa disebut dengan panen raya komoditas, jumlah produk hasil panen melimpah. Akhirnya harga jualnya pun terjun bebas.

Nenek Yang Masih Bertahan

Di antara hiruk-pikuk keluh-kesah mahalnya pupuk pabrikan, Nek Sarkinem, begitu biasanya perempuan usia 54 tahun ini disapa, tanpa beban mengayunkan cangkul di bedengan tanaman ubi jalarnya. Nek Sarkinem mengaku semenjak kecil ia sudah tinggal di desa ini bersama dengan neneknya. Menurut pemaparan Nek Sarkinem, dulu di desa ini petaninya tidak kenal sama yang namanya pupuk-pupuk pabrikan. Soalnya, masih menurut nek Sarkinem, tanah di desa ini dulu sangat subur. Nek sarkinem semenjak kecil ikut kakek neneknya bercocok tanam di desa ini dan mereka tidak memakai “pupuk beli” istilah nek Sarkinem untuk pupuk kimia pabrikan.

“Dulu sawah kami itu nggak pakai di semprot-semprot racun kayak sekarang ini, tapi hasil panennya tetap bagus-bagus dan segar,” tutur nek Sarkinem sambil sesekali menyeka keringat di keningnya yang berkerut.

Meski tubuhnya telah ditaklukkan usia, tetapi semangat bercocok tanam tak pernah hilang dari kehidupannya. Di usia senjanya ini ia menyulap lahan sempit perkarangan rumahnya menjadi kebun-kebun padat tanaman. Di halaman depan rumahnya ada tiga bedengan ubi jalar yang masing-masing panjang bedengannya sekitar tiga meter.

Beberapa senti dari bedengannya, pohon-pohon terung mulai tumbuh. Belum lagi jajaran pohon pisang banten sebagai batas halamannya dengan parit. Disamping rumahnya, Nek sarkinem membangun apotik hidup; temulawak hidup makmur dilahan sempit itu. Di belakang rumahnya, ia menanam ratusan batang bayam. Nek sarkinem mengaku ia tak pernah memakai pupuk beli untuk merawat tetanamannya itu. Ia bisa membuat pupuknya sendiri. Nek sarkinem menggunakan Sisa jerami padi yang diendapkannya di kolong kandang kambingnya. Jerami-jerami padi itu kemudian menyatu dengan kotoran kambing. Setelah beberapa hari campuran itu kembali berbentuk seperti tanah.

Nah inilah asupan nutrisi yang di suguhkan Nek Sarkinem untuk tanamannya. Hasilnya, tanamannya tumbuh subur. Pengetahuan tentang membuat kompos ini didapat nek Sarkinem dari kakek neneknya dulu. Menurut nek Sarkinem, petani dulu tidak membakar jerami padinya seperti yang sering dilakukan petani jaman sekarang. Mereka mengolah jerami padi itu menjadi kompos untuk meningkatkan kesuburan tanah mereka. Selain itu nek Sarkinem juga menerangkan kalau kebiasaan menanam beberapa jenis tanaman di satu lahan juga didapatnya dari kebiasaan kakek-neneknya dulu.

Orang-orang dulu sering menyebutnya dengan nama tumpang sari. Selain itu, ia bercerita kalau petani-petani dulu tidak menanam jenis tanaman secara seragam. Masing-masing petani menanam jenis tanaman yang berbeda sesuai dengan hasil musyawarah para petani di kampung itu. Sehingga setiap panen, jenis tanamannya beragam, jadi harganya tidak turun karena persaingan harga. Dan hasil panenpun tidak semuanya dijual, sebahagian disimpan di dalam lumbung untuk kebutuhan sehari-hari. Dan para petani dulu masih sering bertukar hasil panen.

Tapi kini semuanya berubah, ketika panen tiba para petani mulai dijalari rasa khawatir kalau-kalau hasil panennya tidak habis terjual sebab hasil panen sekarang ini lebih cepat busuk kalau tidak diberi pengawet. Akibatnya banyak petani yang hasil panennya seragam pasrah dengan harga yang ditentukan oleh para pemborong dan tengkulak..

Meskipun tak lagi bercocok tanam di lahan yang luas seperti dulu, Nek Sarkinem tetap saja menumpahkan hasrat bercocok tanamnya di lahan sempit perkarangan rumah dan tetap menjaga tatacara bertani yang diajarkan kakek-neneknya dulu. Sebab ia meyakini bahwa cara bertani model dulu lebih mudah, murah dan menghargai alam.***

(Bagi FK-wan yang ingin kisahnya dimuat dalam rubrik “Kisah Anda” ini, silakan kirimkan artikel beserta foto-foto ke email admin@fotokita.net. Jangan lupa cantumkan alamat, karena setiap karya yang dimuat akan mendapatkan sebuah merchandise menarik dari NGI)

Comments

  1. bowo says:

    wah……fotonya keren……

  2. ilham says:

    fotonya luar biasa bagus; kalau bisa info-info petanian organik dapat dipublikasi lebih detail dan mendalam, terutama tentang padi organik;.

  3. jogi says:

    cerita nek sarkinem bikin saya jadi kangen sama kampung halaman saya dulu, yg masih bersahabat dengan alam. artikel yg bagus mas.

  4. nonot agoes soenarno says:

    wahh…keren sekali jikalau tanaman padi kita pakai pupuk alami rakyat pasti akan lebih sehat

  5. Keren nih artikel, foto-a juga bagus. Salut ma nek Sarkinem…

  6. abdillah says:

    seperti itulah tradisi, sekeras apapun perubahan zaman menenggelamkannya, tetapi tradisi itu akan tetap bertahan, semoga bukan hanya Nek Sarkinem saja yang masih menggunakan cara tradisional dalam bercocok tanam.

  7. Rani Simanungkalit says:

    Ted, keren artikelnya…… zaman sekarang sistem pertanian dengan segala macam pupuk kimia memang bakal nyekek leher, tp masi blm semua orang juga yg mau beralih ke pertanian organik, mungkin karena ngerasa masi terlalu rumit pengerjaannya. padahalkan kalo udah dimulai bakal jauh lebih gampangkan ted?

  8. ridhogolap says:

    diantara banyaknya perlakuan orang yang tidak berkeadilan pada tanah pertanian masih ada seorang nenek yang setia dan berlaku arief terhadap tanah pertaniannya, kisah menarik dari seorang nenek yang tetap percaya pada pola turun menurun yang adil pada tanah.
    sampaikan salam ku pada nenek sarkinen ya ted..

  9. fikal says:

    petani harus bisa menatap masa depan yang cerah,,,i love u full nek sarkinem

  10. nancy says:

    Kita sudah menjadi terbiasa naik kendaraan pribadi, terbiasa ber-AC, terbiasa oleh semua hasil tekhnologi modern ciptaan kita sendiri. Pelan-pelan kita menjadi malas, terganggu dan akhirnya khawatir, kalau sedikit saja kita terlepas dari semua yang mudah dan enak itu. Dan akhirnya kita menjadi lupa bagaimana menjalani hidup tanpa tekhnologi modern.

  11. okithea says:

    Kearifan alam………..salut….two thumbs….
    artikelnya oke….photo mantabbbb….

  12. Iswan says:

    Terimakasih semua kawan2 yang berkomentar dan memberikan masukan. Memang keteladanan dengan pola pertanian tradisional yang tidak merusak lingkungan dan produknya menjaga kesehatan kita harus kita promosikan dan kampanyekan terus. Bravo pertanian selaras alam.

  13. Hidup cuma sekali pantang sakiti bumi…

    foto-foto itu selalu menjadi inspirasi untuk berpihak pada alam dan foto-foto itu selalu mengingatkanku bahwa Bumi ini telah diciptakan dengan keindahan dan keseimbangan yang harus dijaga.. thanks bang Iswan…

    Bumi adalah ibu, yang selalu memberikan hal terbaik bagi anak-anaknya. tetapi bila kita mendurhakai dengan mengeksploitasi dan menyakitinya maka Tuhan akan murka; tanyalah pada Malin kundang dan Sampuraga atau resapi berapa banyak air mata dan nyawa yang telah tumpah di bumi Indonesia ketika bencana-bencana menyambangi hidup kita…

    Hidup cuma sekali, pantang sakiti bumi…

  14. dhani munthe says:

    PENGUASA NEGERI INI TIDAK SADAR DENGAN KONDISI DAN TAKDIR YANG SECARA KODRATI DIAMANAHKAN ALLAH SWT/INDONESIA MERUPAKAN NEGARA AGRARIS YANG MEMUNGKINKAN UNTUK LEBIH CEPAT MAJU BAHKAN PESAT DAN MEMPERKAYA PERSAINGAN DENGAN NEGARANEGARA LAIN SMISAL AMERIKA RUSIA MESIR JEPANG CINA VIETNAM/TETAPI PETANI YANG MERUPAKAN TULANG PUNGGUNG NEGERI DI CAMPUK SEMACAM KERJA PAKSA DI MAS VOC DULU NYA/MEMBAJAK SAWAH YANG BUKAN SAAHNYA MEMANEN SAWIT KARET COKLAT PALAWIJA AREN ANGGUR TEH YANG BUKAN MILIKNYA/APA LAGI YANG DIMILIKI OLEH BANGSA INI PARA KAUM MUDA/APAKAH KITA MASIH SANGGUP SINGSINGKAN LENGAN BAJU BERSATU PADU MELAWAN PENJAJAHAN OLEH BANGSA SENDIRI/
    PULAU GAMBAR SERGAI MERUPAKAN POTREM BURAM KUCEL DARI BERAGAM POLEMIK YANG BERBAUR DI PELOSOK NEGERI KAYA RAYA INI//

  15. alfiroh says:

    wah hebat dua jempol untukmu ted.betul kau ted jaman sekarang memang banyak petani yang masih memakai pupuk,seharusnya mereka mencontoh nek sarkinem yang membuat pupuknya sendiri,,jadi mereka tidak perlu resah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan para petani bisa hidup sejahtera.tapi aku salut banget sama nek sarkinem walaupun sudah tua nek sarkinem masih bisa sekuat itu, wah wah wah betul-betul nenek yang hebat

  16. rudi saragih says:

    HIDUP CUMA SATU KALI, PANTANG SAKITI BUMI (tedy,2009)
    inilah kenyataan! harus ditanggapi dngn bijak. semua ini menyangkut kehidupan di bumi utk hari esok..

    menyangkut kebutuhan primer manusia!

    berbicara pupuk bukankah ada kuota dan alternatif (organik), koq bisa langka? = kurang beres

    tulisan spt ini masih kurang!
    KURANG TERPUBLIKASIKAN!

    MAU MAKAN APA KALAU CUKUP HASIL PERTANIAN??

    salam luar biasa utk penulis!

  17. Sadam Ordinory says:

    Iya seharus’y petani sekarang lebih mendapatkan perhatian yang lebih dari pemerintahan kita. . . .

    Supaya para petani tidak lagi mengeluh atas mahalnya pupuk…

    karna hampir 20 % rakyaat Indonesia pekerjaan’y petani.

    semoga penulis lebih meningkatkan hasil karya’y.
    agar pemerintah bisa melihat kehidupan yang ada di bawah garis kemiskinan yang ada di Indonesia. .

  18. Kaito Uzumaki says:

    Revolusi hijau memang ada baiknya, ada buruknya…kemajuan dalam pertanian merupakan kemajuan pola pikir manusia dalam memanfaatkan sumber daya yang ada..
    tapi manusia dalam perkembangannya melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuannya…
    bukan kemajuan yang didapat..tapi kehancuran itu sendiri..
    Pupuk buatan bukanlah solusi dalam kemajuan dalam pertanian…
    tapi merusak ekosistem yang ada..merusak keseimbangan aturan dunia yang ada
    dengan pupuk buatan manusia lupa bahwa segala hasil tani dan sumber daya alam lainnya sudah ada yang mengatur..
    Baik dari segi hasil dan waktu panen…
    tapi karena kebutuhan yang tidak diimbangi dengan pengeluaran..
    sehingga hal tersebut merupakan solusi sementara yang digunakan
    Sehingga berimbas terhadap aturan dunia dan manusia itu sendiri..
    Alam seakan dimainkan…
    Manusia terperosok ke dalam surga instan yang ada..

    To be Continue…
    Photonya ….tapi kok padi dan telur keong mas..aneh…

  19. Ancha says:

    kearifan lokal yang mulai pudar..
    sekarang bagaimana cara mengembalikannya???
    tulisannya bagus bang… tapi foto nek sarikem kok mirip ma engkau bang ted?? sodara ya .. wkwkwk

  20. Ayu Lestari says:

    Tentang tekhnik menulis, teddy wahyudi pasaribu tidak perlu di ragukan lagi (>__<), features yang cukup bagus penggunaan kata-katanya. Tapi hidup tak sekedar untaian kata-kata, untuk itu perlu dua jempol teracung untuk kemampuan penulis menggali tema yang cukup dekat dengan masyarakat agraria kita, namun kurang mendapat sorotan kritis karna terlanjur dianggap sesuatu yang biasa.

    Yang menarik dari tulisan ini justu ada pada kemampuan mengajak dan mengolah fikiran pembaca untuk menata ulang konsep berfikir seseorang. sudah terlalu lama masyarakat dibikin diam dengan konsep kemajuan tekhnologi dan kemudahan yang didedahkan zaman. tapi tidak banyak yang mau berfikir ulang, apa dampak yang nantinya akan diperoleh bumi ini.

    Yupzz…..
    Keep writing bro….
    Salam Perubahan….

    Nb : Sangat tertarik dengan hamparan padi, telur keong mas dan nek sarkinem. Smoga aku masih punya esok untuk berkunjung ke pulau gambar….

  21. Wawan says:

    Viva Rakyat agraris pekerja keras yang sangat menjunjung tinggi kearifan lokal yang memperkuat daya dukung lingkungan untuk hari depan kita yang masih panjang.
    Artikel ini sangat layak dimuat NGI persi cetaknya, alias majalahnya. Gimana dengan usulan ini bung pengelola….?
    Terimakasih…

  22. nakalkidz says:

    sebuah informasi yang menarik..!

  23. Ahmad Fadhli says:

    sebagian besar daerah Indonesia adalah agraris, jadi kemungkinan besar hasil kekayaan Indonesia dari pertanian, cerita di pulau gambar mengingatkan aku kepada masa lalu ku waktu duduk di Sekolah Menengah Pertama, saat pulang sekolah aku dan teman2 ku membawa bekal dari rumah dan makan di pondok di tengah2 kuningan padi, dengan angin yang sepoi2, sambil mengusir burung2 yang ingin memakan padi, sampai tertidur pulas hingga petang, bis tidur kami mencari belut di beteng2 sawah tersebut, sering di marahi bahkan sampai dikejar-kejar para petani pakai aret karena merusak tanaman padinya, bukan apa2, saat itu kami belum terpikir bahwa nasi yang kami makan adalah hasil dari jerih payah petani, jangan anggap remeh sama petani, semua warga Indonesia dibesarkan oleh petani………..

    kapan ya bisa ke pulau gambar
    biar teringat masa lalu ku
    karena saat sekarang sawah tersebut
    tak seindah dahulu…….
    dan banyak ditanami sayur-mayur lain…
    bahkan sudah ditimbun tuk menjadi lahan pembangunan rumah

  24. MUSLIM says:

    Wah suatu proses yang bagus anatra gambar dan laporan dan kita lihat gambarnya pun bagus,dan semoga ini bisa berlanjut dan bisa memberikan informasi kepada khalayak ada informasi apa disana dan semoga bisa menjadi bahan diskusi bagi kalangan akademis mengenai pertanian di darah kita ini terutama di sumut.

    sukses maju terus

    MUSLIM

  25. FuN_NiCh says:

    TerTariK bgT dgn puLau gaMbAr.
    Pen9eN n9eRasai tin9gaL d daEraH peDesAan y6 diKeLiLin9i hAmpAraN sawAh..
    MeNyejUkKan mAta,
    meNenTraMkan jiwA..

  26. hidayah ramadhan says:

    sekarang aku tinggal di kota dan susah kali kalau mau lihat sawah dan keindahan alam. nggak kayak di desa dulu. sebetulnya aku rindu sekali bisa pulang lagi ke desa. tapi orang tua sudah pindah. maunya kita semua sadar kalau alam itu diciptakan indah untuk kita jaga bukan kita rusak.

    foto-foto yang menggambarkan alam bisa sedikit menghibur rasa rinduku. fotonya juga bagus-bagus. untung masih ada web semacam ngi ini jadi bisa lihat pemandangan yang mungkin belum pernah dilihat sebelumnya.

    aku juga mau belajar memotolah sama nulis. biar aku bisa ikut juga bilang keorang-orang tentang masalah alam kita, terutama petani kayak yang di tulisan atas. tapi foto kayaknya lebih bisa menjelaskan masalah alam karena orang bisa lihat langsung.

    foto diatas bagus kali. kayak mana cara ngambil fotonya? kasih tips2nya dong

  27. Iswan says:

    Bung Hidayah Ramadhan yang baik dan semua teman yang telah berkomentar terhadap tulisan dan foto yang ada di sini

    Saya ucapkan ribuan terimakasih.
    Saya merasa foto2 yang ada biasa2 saja. Yang justru sangat menggugah itu adalah tulisan saudara kita Teddy. Jadi soal memoto saya juga baru belajar. Namun apabila Anda tinggal di Medan kita bisa bertemu di BITRA (Bina Keterampilan Pedesaan) Indonesia, Jl Bahagia By Pass 11/35.

    Sekali lagi terimakasih atas semua komentar dan pujian yang diberikan.

  28. robby pratama says:

    (^_^) dua jempol untuk Nenek Sarkinem..benar-benar kreatif dan bermanfaat bercocok tanam dengan cara Revolusi Hijau’..baik secara financial maupun hasil tanam..Alami.

  29. robby pratama says:

    Ehhh..salaahh..Maksudnya cara menanam dengan pupuk alaminya..
    hihi..

  30. anita theresia manua says:

    memang negeri kita ini sangat kaya dengan hasil pertanian
    saya salut dengan hasil foto anda

  31. Iswan says:

    Terimakasih semua teman2 yang meng-apresiasi dan telah perhatian dengan dunia pertanian yang telah memberi makan kita.

  32. budiono says:

    benar benar tulisan dan jepretan yang klop….. jadi pengen pulang kampung
    klu belajar aja udah begini…. gimana kalau dah mahir….??
    maju terus bro……..

  33. bowo says:

    keren infonya.
    tapi sekalilagi keterangannya yg jelas, dusunnya dusun brapa.
    ok brooo?

  34. nai says:

    saya kira foto yang naek traktor bukan dipulau gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>