Kenali burung Anda: kiat memotret burung

Pin It

Belakangan ini, fotografi di tanah air semakin pesat saja perkembangannya. Mulai dari kota besar hingga kota kecil, mulai dari anak muda hingga orang tua menenteng kamera ke mana saja. Ada yang menyukai foto model, ada juga yang lebih tertarik mendokumentasikan realitas sosial di masyarakat. Atau yang lebih menantang, tak jarang ada fotografer yang menyukai pemotretan di alam mengabadikan lanskap alam hingga flora dan faunanya.

(Foto: Hari Subagio)

Salah satu hal yang menarik dan cukup ramai peminat adalah memotret burung. Ya, mengabadikan burung menjadi salah satu tantangan dan juga kesenangan bagi fotografer. Namun, sebelum berburu foto burung, FK-wan perlu memperhatikan apa saja yang bisa dilakukan agar hunting foto burung bisa menghasilkan foto yang menarik.

Berikut ini tipsnya :

1. Kenali burung yang akan Anda potret
Ibarat akan datang ke suatu kota, tentunya kita harus mengetahui dulu kota tersebut seperti apa. Nah, begitu pula dengan memotret burung. Setidaknya, FK-wan harus mengetahui jenis burung apa yang akan teman-teman abadikan. Bagaimana perilaku burung tersebut, di mana dan kapan waktu burung tersebut keluar sarang untuk mencari makan. Dalam buku Photographing Birds terbitan National Geographic yang ditulis oleh Rulon E. Simmons, dituliskan bahwa mengerti dan mempelajari perilaku burung akan membantu fotografer untuk menghasilkan foto burung yang menarik. Nah sekarang waktunya mencari info tentang burung yang akan kawan-kawan foto. Mungkin bisa burung bangau, burung jalak, atau bisa saja burung cenderawasih.

2. Pilih peralatan yang tepat
Dalam fotografi burung, kamera dengan lensa yang sesuai tentu juga akan berdampak pada foto yang dihasilkan. Produsen kamera saat ini mengeluarkan banyak varian kamera yang sudah sangat bagus dalam melakukan perekaman gambar. Lensa tele adalah pilihan yang tepat untuk memotret burung. Range lensa yang bisa digunakan misalnya 70-300 mm, 100-400 mm, 400 mm, atau 600 mm. Teman-teman juga bisa menggunakan teleconverter untuk menambah jarak zoom lensa. Selain itu, penggunaan tripod akan sangat membantu pengambilan foto supaya kamera tetap steady (tidak bergetar/goyang).

3. Memilih lokasi
Setelah mendapatkan informasi mengenai burung dan memastikan peralatan untuk memotret, sekarang adalah memilih lokasi foto. Berburu foto burung tidak harus selalu ke hutan rimba. FK-wan bisa melakukannya di daerah sekitar rumah dahulu. Burung pipit (Passer domesticus) bisa ditemui di sekitar rumah, juga burung merpati, atau beberapa burung lainnya. Jika ingin mendapatkan jenis burung lainnya, teman-teman bisa hunting ke areal sawah, perairan, atau hutan di sekitar tempat tinggal. Tak jarang fotografer yang ingin mendapatkan foto burung bertandang ke kebun binatang seperti Ragunan. Sekarang, tergantung FK-wan ingin berburu foto di rumah, kebun binatang, atau melakukan petualangan di alam untuk berburu foto burung seperti yang dilakukan oleh fotografer National Geographic, Tim Laman.

Untuk berburu foto burung, sebaiknya fotografer juga harus mempelajari waktu migrasi burung, tempat yang dilewati saat migrasi, dan seberapa lama keberadaan burung di daerah tersebut. Karena, berburu foto saat migrasi akan memberikan kemudahan dan ruang yang lebih banyak untuk FK-wan menghasilkan foto yang menarik.

4. Pengaturan kamera
Burung merupakan binatang yang suka berpindah-pindah, sehingga sebagai fotografer kita harus jeli untuk menangkap foto burung. Agar foto burung yang kita hasilkan maksimal, maka teman-teman bisa melakukan pengaturan kamera sesuai kebutuhan pemotretan. Untuk burung yang sedang terbang, teman-teman sebaiknya menggunakan kecepatan 1/500 – 1/1000, untuk memastikan bahwa kamera menangkap gambar burung dengan sempurna. Jangan lupa untuk mengatur bukaan diafragma sesuai kebutuhan.

Bagaimana dengan pengaturan fokus agar tetap bisa menangkap foto burung yang bergerak ? Nah, di kamera teman-teman pastikan fokus sudah di-setting ke AI Servo AF. Setting-an ini sangat cocok untuk objek yang bergerak dan berpindah. Tak ada salahnya mengatur kamera ke mode pengambilan continuous shot. Untuk burung di kebun binatang, FK-wan bisa mengatur bukaan diafragma F/4 atau f/5.6. Namun, teman-teman FK juga bisa mengatur bukaan diafragma sesuai kebutuhan.

5. Saat hunting foto
Hunting foto burung memiliki keasyikan tersendiri. Tak jarang, fotografer harus pergi ke pedalaman untuk mendapatkan foto yang diinginkan, menghabiskan waktu berhari-hari dalam hutan, melakukan penyamaran agar burung tidak merasa terganggu saat pengambilan foto, membuat perancah sendiri agar burung bisa difoto pada posisi eye-level. Tentunya ketekunan dan keseriusan akan membantu kita untuk menghasilkan foto yang menarik.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk berburu foto burung, seperti menemukan lokasi burung yang akan difoto. Rulon E. Simmons dalam bukunya memberikan tips untuk menarik perhatian burung, yakni dengan meletakkan makanan yang disukai burung pada tempat yang sudah direncanakan. Jika burung tersebut menunjukkan tanda ketertarikannya pada makanan, ini akan menjadi sinyal baik bagi fotografer untuk mengarahkan moncong lensanya ke umpan yang sudah diletakkan. Jika cara tersebut tidak berjalan, jalan lainnya adalah mengeluarkan suara yang menarik minat burung. Namun, jangan sampai mengeluarkan suara yang berisik, bukannya mengundang malah membuat burungnya kabur.

(Foto: Sijanto)

Selain itu, FK-wan bisa menangkap emosi dan aktivitas burung agar foto yang dihasilkan lebih menarik. Foto yang hanya memperlihatkan burung yang sedang diam tentu kurang menarik dibandingkan seekor burung yang sedang memberi makan anaknya.

Setelah membaca tips di atas, sekarang waktunya berburu foto. Jika masih memerlukan bahan bacaan, tak ada salahnya FK-wan membaca buku Photographing Bird yang ditulis oleh Rulon E. Simmons dan diterbitkan oleh National Geographic. Buku setebal 176 halaman ini akan memudahkan teman-teman untuk memahami fotografi burung. Selamat berburu foto ya. (Yunaidi Joepoet, fotografer NGI/NGT)