Yunaidi: fotografi ‘human interest’ bukan cuma potret wajah tua berkerut

Yunaidi menyampaikan materi tentan fotografi human interest. (Harry Afif)

Yunaidi menyampaikan materi tentan fotografi human interest. (Harry Afif)

“Sering sekali kita melihat foto-foto ‘human interest’ yang menggambarkan kesusahan, penderitaan, atau potret orang-orang tua berkerut. Padahal esensi foto human interest bukan cuma itu,” kata Yunaidi, fotografer National Geographic Indonesia, membuka workshop dan hunting foto “Interaksi Pasar Rakyat” di Omah Sinten, Solo (30/4).

Dalam paparannya, Yunaidi, yang akrab dipanggil Yudi, mengungkapkan bahwa elemen manusia hampir selalu ada dalam berbagai kategori fotografi; jurnalistik, perjalanan, portrait, dan lain-lain. Tapi kemudian banyak fotografer yang menggolongkan foto-foto yang menggambarkan kehidupan manusia ke dalam kategori human interest. “Itu hanya soal definisi, tidak mengubah esensi dasar dari tujuan fotografi,” ujarnya.

Yudi kemudian melanjutkan dengan memberi beberapa contoh karya foto human interest yang jauh dari pemahaman kebanyakan orang soal jenis foto ini. Foto human interest, kata Yudi melingkupi semua imaji yang menggambarkan kehidupan manusia, bisa sedih atau bahagia, kaum papa atau berharta, dan sebagainya. Yudi menjelaskan bahwa konteks (tempat, persoalan atau fenomena sosial yang lebih besar) tetaplah menjadi bagian dari balada kehidupan manusia.

Yunaidi (kanan) dan pemenang kontes foto Instagram on the spot. (Harry Afif)

Yunaidi (kanan) dan pemenang kontes foto Instagram on the spot. (Harry Afif)

Firman Firdaus memaparkan Fotokita.net. (Harry Afif)

Firman Firdaus memaparkan Fotokita.net. (Harry Afif)

Hunting ke Pasar Gede. (Harry Afif)

Hunting ke Pasar Gede. (Harry Afif)

“Hal pertama yang harus dilakukan bila ingin memotret human interest adalah temukan cerita yang bukan hanya menarik buat Anda sebagai fotografer, melainkan juga menarik untuk diceritakan kepada orang lain,” imbuh fotografer yang juga piawai memotret lanskap ini. Untuk memperkuat emosi, kata Yudi, fotografer harus peka terhadap subjek foto dan nilai-nilai kemanusiaan secara umum. “Senyum dan bersikap ramah—kalau perlu konyol—merupakan pintu masuk paling mudah untuk mendekati subjek,” Yudi menambahkan. Intinya, gunakan etika. Jangan pelit mengucapkan terima kasih.

Dalam kesempatan yang sama, editor Fotokita.net, Firman Firdaus yang biasa dipanggil Daus, juga memberikan pemaparan tentang Fotokita.net dan kenapa pasar rakyat menjadi salah satu topik yang penting untuk diangkat oleh fotografer. Melestarikan pasar rakyat, kata Daus, sama dengan melestarikan tradisi asli suatu masyarakat. Begitu panjang rantai ekonomi yang ikut terbangun jika kita membelanjakan uang di pasar rakyat.

“Setiap orang punya peran berbeda dalam melestarikan pasar rakyat. Kita, sebagai fotografer, bisa melakukannya dengan memotret imaji dan berbagai interaksi menarik di dalamnya, kemudian menyampaikannya kepada khalayak,” tutur Daus.

Berfoto bersama di akhir acara. (Harry Afif)

Berfoto bersama di akhir acara. (Harry Afif)

Acara kemudian berlanjut dengan hunting foto ke Pasar Gede, salah satu pasar terbaik di Jawa Tengah, tidak jauh dari lokasi acara. Namun, untuk menghemat waktu, para peserta ramai-ramai menggunakan becak untuk menuju pasar. Acara makin seru saat foto-foto hasil hunting peserta dibahas secara demokratis oleh para peserta sendiri. Peserta workshop datang dari penjuru Solo, Yogyakarta, Klaten, Kebumen, bahkan dari Semarang (Instanusantara Semarang) juga menyempatkan hadir.

Di akhir acara, seluruh peserta menyempatkan untuk berfoto bersama, dilanjutkan sesi ngobrol-ngobrol informal.

FRAME: Mempertanyakan makna dalam ‘street photography’

Harry Afif

Harry Afif

Sebagai bagian dari rangkaian roadshow ARKAMAYA (buku foto hasil workshop Galeri Foto Jurnalistik Antara angkatan XXI), Fotokita.net ikut berpartisipasi menyelenggarakan FRAME (Fotokita Sharing Moment) dengan tema “Menggali Inspirasi di Jalanan”, menghadirkan Editor Fotokita, Firman Firdaus, dan anggota Fotokita sekaligus street photographer, Iqro Rinaldi. Diskusi dipandu oleh Dio Dagna, Marketing Communication National Geographic Indonesia.

Iqro, yang fotonya telah tiga kali terpilih sebagai Foto Pilihan Editor di Fotokita, menyatakan, alasannya memotret jalanan adalah karena itu hal yang paling mungkin dilakukannya saat ini, dan “karena situasi sosial di sekitar kita itu adalah yang terdekat dengan kehidupan saya sehari-hari,” ungkapnya. Foto-foto Iqro banyak menyajikan realita sosial, khususnya di Jakarta, dan manusia di tengah arus pembangunan.

Firman Firdaus, yang menjadi editor majalah National Geographic Indonesia selama hampir sepuluh tahun, menyampaikan sudut pandang tentang pentingnya makna dalam street photography. “Di era Instagram sekarang ini, street photography kebanyakan dihadirkan hanya sebagai sebuah karya estetika, dengan pola garis dan satu manusia di area sepertiga, permainan cahaya, atau jukstaposisi subjek. Tetapi, tidak jelas betul apa yang ingin disampaikan,” jelasnya.

IMG_0775(1)

Memang, lanjut pria yang biasa disapa Daus ini, ada pendapat yang menyatakan bahwa street photography tidak memiliki tendensi untuk bercerita, tetapi “menurut saya, street photography itu hanya sebuah pendekatan. Intinya tetaplah kisah apa yang ingin diceritakan lewat foto,” katanya.

Menanggapi pertanyaan soal bagaimana menyelipkan makna dalam foto-foto, Daus menyampaikan satu kiat kecil. “Sebelum memotret, tetapkan tujuan Anda. Respons apa yang ingin Anda sampaikan kepada audiens Anda. Persoalan apa yang ingin Anda angkat lewat foto-foto Anda. Dengan begitu, Anda akan berupaya mencari frame yang bisa membangun cerita,” ujar Daus. Satu kiat yang juga mudah dilakukan adalah dengan melihat-lihat karya cerita fotografer lain yang menggunakan pendekatan street photography, seperti David Alan Harvey atau Alex Webb.

Birdgasm! Inilah pemenang Audubon Photography Awards 2016

Foto pemenang Grand Prize, oleh Bonnie Block

Foto pemenang Grand Prize, oleh Bonnie Block

Setiap tahunnya, Audubon Society, yang lama dikenal sebagai organisasi konservasi nirlaba, menyelenggarakan lomba foto wildlife (utamanya burung) bergengsi Audubon Photography Awards.

Tahun ini, berhasil terkumpul sekitar 7.000 foto dari sekitar 1.700 fotografer. Silakan menuju halaman ini untuk melihat foto pemenang, atau ke halaman ini untuk melihat 100 besar finalis kontes foto ini. Birdgasm!

Sony World Photography Awards: Fotografer Iran, Asghar Khamseh, meraih predikat fotografer terbaik tahun ini

(Ashgar Khamseh/)

(Asghar Khamseh/Alphauniverse.com)

Fotografer Iran, Asghar Khamseh, meraih predikat fotografer terbaik tahun ini dalam ajang Sony World Photography Awards 2016 lewat seri foto Fire of Hatred, yang menggambarkan korban-korban serangan cairan asam. “Aksi kekerasan menyiram cairan asam biasa dilakukan kepada perempuan dan anak-anak, yang bertujuan menghancurkan kehidupan sosial dan masa depan korbannya. Biasanya, hal ini dilakukan karena sudah ‘tradisi’ jika terjadi konflik keluarga, lamaran pernikahan yang ditolak, balas dendam, atau karena permintaan cerai dari sang istri,” kata Khamseh.


Sumber: Alphauniverse.com

Ilmu Komunikasi UNSOED Gelar Festival Komunikasi Pertama

image1

COMFESSION (Communication Festival is On) merupakan sebuah acara yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Komunikasi FISIP UNSOED. Event yang untuk pertama kalinya diselenggarakan ini bertujuan memfasilitasi mahasiswa dalam menuangkan ide-ide kreatif melalui kompetisi komunikasi dalam lingkup se-Jateng dan Yogyakarta dengan tema “High Performance on Digital Era of Communication”. Melalui tema yang diusung tersebut, COMFESSION 2016 mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk menggunakan teknologi secara positif dan bijak.

Comfession 2016 menawarkan serangkaian kegiatan yang menarik, yaitu kompetisi komunikasi, galeri komunikasi, workshop, dan awarding night. Pada kompetisi komunikasi, ada tiga kategori yang dilombakan: fotografi, video kreatif, dan desain poster. Kompetisi fotografi mengambil tema “People with Technology Nowadays” yang dilatarbelakangi oleh kurangnya pengetahuan penggunaan teknologi komunikasi oleh masyarakat. Oleh karena itu, dengan kompetisi tersebut, Comfession ingin mengampanyekan penggunaan produk teknologi komunikasi yang tepat melalui foto.

image7

Sementara itu, kompetisi video kreatif mengangkat isu bagaimana kehadiran teknologi sesungguhnya telah membawa perubahan dalam kehidupan manusia yang dituangkan dalam “ Digital Native Behaviour”. Sedangkan kompetisi desain poster bertajuk “Teach with Tech”, yaitu penggunaan teknologi komunikasi secara positif dengan konsep poster iklan layanan masyarakat.

Tidak kalah menarik, Galeri Komunikasi akan menghadirkan pameran jurnalisme (Radar Banyumas), broadcasting (Radio Bhineka Ceria dan Sonora), fotografi (UKM Refleksi Fisip Unsoed) dan sinematografi (Lingkar Biru) yang dikemas secara fun, modern, dan artistik. Keseluruhan rangkaian kegiatan ini diharapkan akan menambah wawasan mengenai dunia komunikasi dan beragam bidang yang ada di dalamnya.

image5

Selanjutnya, Workshop Comfession akan diisi oleh pembicara-pembicara yang berkompeten di bidangnya, seperti Agus Maulana (Video Editor TV One) dan Jafriyal Alba (kameramen andal NET TV), dan Iqbal Fais (Produser dan Presenter RCTI) yang pastinya sangat menarik dan tidak boleh dilewatkan.

Rangkaian acara yang terakhir dan paling ditunggu-tunggu adalah Awarding Night Concert, yaitu malam puncak dan penganugerahan kepada para pemenang Comfession 2016. Di samping penyerahan hadiah kepada para pemenang, acara ini turut dimeriahkan oleh pentas seni musik, penampilan tari tradisional, guest star band Souljah dan masih banyak hiburan seru lainnya.

image4

Seluruh rangkaian kegiatan Comfession 2016 tersebut akan berlangsung mulai 30 Maret–2 April 2016 dan bertempat di Kampus FISIP Universitas Negeri Jenderal Soedirman, Purwokerto. Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan menghubungi contact person kami, Salsabila di nomor telepon 08977177812 atau kunjungi www.comfessionunsoed.com (Dinar Laksitani)

Cerdas Menangkap Imaji lewat Kontes Foto “Smart Bintaroku”

Kawasan hunian Bintaro Jaya menyelenggarakan Lomba Foto bertema Smart Bintaroku, bersama dengan National Geographic Indonesia. Lomba ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan bertema lingkungan dalam rangka menyambut HUT ke-37 Bintaro Jaya. Setiap tahun, Bintaro Jaya menyelenggarakan berbagai lomba bertema lingkungan, termasuk Lomba Foto. Para peserta…

Mau eksis di kompetisi foto “Color of Jakarta”? Cek 7 hal berikut!

Untuk keempat kalinya, kompetisi foto bertajuk “Color of Jakarta’ hadir di tengah para penggiat fotografi. Dengan empat kategori, yakni Wisata dan Budaya Jakarta, Photo Story, Street Photography dengan ponsel, dan Video singkat, Color of Jakarta mengajak masyarakat untuk mengabadikan setiap momen dalam tema besar “Urban…

Feri Latief: Modal “haha-hihi” jadi jurus ampuh mendekati subjek foto

“Saya tidak pernah mengalami kesulitan dalam mendekati subjek foto saya, dari berbagai kalangan. Modalnya cuma satu, ‘haha-hihi’ alias senyum,” ujar Feri Latief, tentu saja diiringi senyum khasnya, kepada para peserta Fotokita Sharing Moment (FRAME) bertema “Memotret Festival Budaya dan Religi” di Bintaro Xchange Mall, Bintaro,…