Menyatu dengan alam lewat 20 karya terbaik #DaihatsuFuntography

Daihatsu sebagai sahabat masyarakat Indonesia mengeksplorasi keragaman alam dan budaya Indonesia dengan mengadakan kompetisi “Funtography 2” yang digelar pada 18 Mei – 18 Juni 2016.  Kompetisi foto ini terbagi menjadi dua kategori yang diikuti oleh peserta, yang datang dari seluruh Indonesia. Yang pertama adalah #FunWithNature,…

Di balik layar penjurian Funtography Daihatsu

Pada 30 Juni 2016 lalu, ruang rapat National Geographic Indonesia terasa hangat. Bukan karena pendingin ruangan mati, melainkan karena hari itu merupakan hari penjurian kompetisi foto yang diselenggarakan oleh Daihatsu Indonesia dan National Geographic Indonesia.

20160630_111040

Kali ini tema yang dilombakan ada dua: “FunWithNature”, yakni foto-foto yang dilombakan bernuansa kota, alam, hutan, laut yang ada di Indonesia. Kemudian tema kedua adalah “FunWithTerrios”, yakni foto yang di dalamnya berisi petualangan bersama Daihatsu Terios.

Dewan juri yang berpartisipasi adalah Feri Latief (kontributor National Geographic Indonesia), Didi Kasim (Editor in Chief National Geographic Indonesia), dan perwakilan pihak Daihatsu. “Banyak foto menarik dan beragam,” ujar Feri saat penjurian.

Perdebatan alot juga mewarnai saat penjurian. Foto-foto yang dilombakan menggambarkan keharmonisan keluarga dengan alam dan Daihatsu Terios. Beberapa di antaranya menonjolkan hubungan manusia dengan alam.

Sesuai dengan tema, para juri jeli memilih foto yang nantinya akan dijadikan pemenang. “Foto pemenang idealnya memiliki angle yang menarik,” ujar Didi Kasim di tengah perdebatan.

Daihatsu sendiri memilih tema alam bukan tanpa tujuan, yakni memperkenalkan pesona alam yang dimiliki Indonesia. Terlebih bagi para petualang dengan mobil Terios, pastinya lomba foto ini merupakan ajang yang ditunggu untuk mengkombinasikan antara pesona alam dan Terios yang selalu menemani setiap perjalanan.

Foto-foto pemenang bisa dilihat di sini.

Libur Lebaran 2016, ikuti beragam lomba dan tantangan di Fotokita

Untuk mengisi libur Lebaran, Fotokita.net menyelenggarakan beragam kontes foto dan tantangan #FKChallenge via Instagram dengan hadiah-hadiah menarik. Kontes Foto Fotokita (KFF) #WarnaWarniLebaran edisi Ramadhan-Lebaran dimulai pada 1—24 Juli 2016. FK-wan bisa berpartisipasi lewat halaman ini. Ikuti juga #FKChallenge dengan tema “Ragam Kuliner Nusantara” yang akan…

Jalin silaturahmi, instanusantara Jakarta gelar ‘photowalk’

“instanusantara” adalah komunitas fotografi yang memanfaatkan media sosial Instagram sebagai galeri portofolio atau sekadar memamerkan karya hariannya. Salah satu cabang regionalnya ialah instanusantara Jakarta.

instanusantara Jakarta memiliki kegiatan rutin yang memiliki jargon khusus, yaitu “instanusantara ngider Jakarta”. Selain melakukan photowalk, instanusantara Jakarta juga melakukan coaching clinic, dan feature harian (foto repost untuk mengapresiasi member instanusantara).

Foto bersama peserta ramadhan photowalk

Foto bersama peserta ramadhan photowalk

Dalam rangka bulan suci Ramadhan, Minggu (26/6) instanusantara Jakarta juga mengadakan photowalk. Berlokasi di Masjid Istiqlal, bertemakan “Ramadhan Photowalk”, instanusantara Jakarta memanfaatkan model konseptual sebagai objek foto oleh para fotografer. Model tersebut memperagakan kegiatan yang dilakukan umat islam saat bulan puasa, seperti sholat, berdoa, membaca Alquran, dan bebuka. Selain itu, ada spot untuk memotret arsitektur masjid Istiqlal, di mana spot tersebut dibagi menjadi beberapa stage.

Berikut foto foto model konseptual di setiap stagenya:

IMG_9649

IMG_9630

IMG_9654

IMG_9681

IMG_9754

Sekitar 70 fotografer, baik member ataupun nonmember instanusantara Jakarta, meramaikan acara ini. Acara juga dimeriahkan dengan lomba foto on the spot yang diselenggarakan pihak sponsor. Koordinator acara, Peqi Irawan, mengatakan bahwa “Acara Ramadhan Photowalk ini diadakan setiap tahun pada bulan Ramadhan di masjid Istiqlal. Tetapi, pada tahun 2015 lalu, acara ini diselenggarakan di masjid Cut Meutia. Acara ini bukan sekadar ajang cari foto, namun juga untuk menjalin hubungan baik antar penggiat fotografi.” Acara ini berlangsung mulai pukul 14.00 dan diakhiri dengan berbuka puasa bersama.

IMG_9778

IMG_9762

IMG_9759

Teks dan foto oleh Satria Ardi

Pameran foto Imaji #2 tampilkan evolusi proses cetak foto

40 x 40cm Gum Bicromatte pada kertas

40×40 cm
Gum Bicromatte pada kertas

Fotografi telah berumur hampir dua abad. Ia sempat mengalami evolusi dan revolusi. Rupa fotografi yang terlihat saat ini merupakan hasil dari kedua dinamika budaya fotografi tadi. Ada banyak peninggalan budaya fotografi yang diwariskan kepada generasi penerusnya. Sebagian terus dikembangkan, sebagian lagi berhenti sebagai artefak dari ide-ide teknologi yang jarang dibuka lagi.

Di antara sekian banyak ide yang diwariskan para pendahulu fotografi ialah teknologi cetak-mencetak, atau proses visualisasi imaji fotografi. Tahun 1826 merupakan titik awal keberhasilan manusia dalam menciptakan imaji fotografi yang permanen melalui penemuan Joseph Nicéphore Niépce. Penemuan ini pada kemudian hari diteruskan oleh ilmuwan lain seperti Louis-Jacques-Mandé Daguerre dengan teknik cetak Daguerreotype, William Henry Fox Talbot dengan teknik Calotype, Sir John Herschel dengan penemuan Cyanotype-nya, serta ilmuan-ilmuan lainnya.

Edial Rusli 50x70cm Cyanotype Cetak pada Kain

Edial Rusli
50x70cm
Cyanotype Cetak pada Kain

Irwandi 20x30cm Cyanotype Cetak pada Kertaas

Irwandi
20x30cm
Cyanotype Cetak pada Kertaas

Kurnia Yaumul Fajar Vandyke dan Handcoloring pada kertas Reproduksi karya foto Nickolas Muray

Kurnia Yaumul Fajar
Vandyke dan Handcoloring pada kertas Reproduksi karya foto Nickolas Muray

Hasilnya, fotografi sebagai sebuah ranah visualisasi kini mewarisi puluhan metode cetak yang dahulu sempat mendunia. Kini ide-ide budaya tersebut terabadikan dalam artefak-artefak yang masih dapat dipelajari kembali. Ide-ide itu kini disebut sebagai old photographic processes.

Pameran Imaji #2 yang bertajuk “Alternative Photographic Processes” merupakan salah satu hasil dari pembacaan kembali artefak-artefak budaya fotografi masa lalu, khususnya ide teknologi cetak foto pada abad ke-19. Dalam pameran ini ditampilkan karya-karya terpilih yang dibuat dengan menerapkan metode cetak fotografi masa lalu, di antaranya cyanotype/blue print, vandyke/brown print, dan gum bichromate.

Mengingat kesemuanya merupakan temuan fotografi abad ke-19, berarti para peserta memamerkan foto-foto yang mereka buat secara non-masinal atau “main tangan”. Untuk membuat karya semacam ini, mereka harus terlebih dahulu meracik ramuan bahan kimia agar mendapatkan emulsi peka cahaya, mengaplikasikannya ke atas media yang dijadikan “kertas foto”, serta memprosesnya agar menghasilkan imaji fotografis yang khas dan layak pamer.

Khairunisa 50x25 Vandyke pada kertas

Khairunisa
50×25 Vandyke pada kertas

Isroviana 25x25cm Vandyke

Isroviana
25x25cm Vandyke

Pameran berlangsung mulai 8 hingga 12 Juni 2016. Pembukaan dilakukan pada Jumat lalu (3/6) bertempat di Kafe Neo, Galeri Foto Jurnalistik Antara. Sebagai informasi tambahan, dalam pameran ini juga dijabarkan secara singkat beberapa proses cetak fotografi yang digunakan. Ini dilakukan untuk memberi gambaran kepada pemirsa tentang proses yang harus dilakukan oleh para pengkarya dalam pameran ini.

Fotokita hadir di Indonesia Cellular Show 2016

index

FK-wan, saat ini, siapa yang tidak pernah memotret menggunakan kamera gawai? Sepertinya tidak ada. Perkembangan teknologi perangkat bergerak begitu pesatnya, termasuk teknologi kamera yang dijejalkan di dalamnya, membuat setiap orang bisa menjadi fotografer dengan hanya bermodal kamera gawai. Tetapi, bagaimana cara mengoptimalkan hasil jepretan kita sehingga memiliki kualitas yang berbeda dengan kebanyakan orang?

Semua akan dibahas dalam sesi berbagi dan diskusi bertajuk “Kiat Lihai Fotografi Gawai” di ajang Indonesia Cellular Show (ICS), pada 4 Juni 2016, di Stage Hall A, Jakarta Convention Center, pukul 15.00-16.00 WIB. Hadir sebagai pemateri adalah Yunaidi, fotografer National Geographic Indonesia yang mewakili Fotokita.net.

ICS 2016 adalah pameran yang diselenggarakan oleh Dyandra Promosindo yang bekerja sama dengan ATSI (Asosiasi Penyelenggara Jasa Telekomunikasi Seluruh Indonesia) dan ini merupakan pameran yang ke-13 kalinya diadakan. Pameran ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya pameran telekomunikasi berorientasi retail di Indonesia, di mana pameran ini merupakan ajang yang mendekatkan para operator telekomunikasi Indonesia dengan pengunjung langsung dan mereka dapat berinteraksi secara langsung pula untuk mendapatkan berbagai macam informasi terkini terkait industri selama pameran.

ics1

Tahun ini tema yang dipilih dalam pameran ini adalah Digital Revolution yang mana hal tersebut sejalan dengan kampanye yang didukung penuh oleh pemerintah, yaitu revolusi digital akan merevolusi perekonomian Indonesia. Jadi pada ajang Indonesia Cellular Show 2016 kali ini merupakan implementasi nyata para penyelenggara jasa telekomunikasi untuk mewujudkan revolusi digital dan menunjukkan kepada khalayak umum bahwa para penyelenggara jasa telekomunikasi inilah yang menjadi tulang punggung revolusi digital yang telah dicanangkan pada akhir tahun lalu.

Indonesia Cellular Show (ICS) 2016 sendiri akan diadakan selama 4 hari yaitu dari Kamis sampai dengan Minggu pada 2 – 5 Juni 2016 yang bertempat di Jakarta Convention Center (JCC) yaitu di Hall A, Hall B, dan juga Cendrawasih Hall. Dalam ICS 2016 tentunya akan hadir banyak tenant mulai dari dari operator, device, network, applications, dan masih banyak lagi yang akan menghadirkan koleksinya serta banyak penawaran menarik. Selain itu akan ada juga acara Temu Pelanggan Seluler (TPS) 2016, seminar, workshop & serta penampilan artis terkemuka yang tentunya akan menghibur para pengunjung yang datang ke ICS 2016.

Informasi selengkapnya terkait Indonesia Cellular Show (ICS) 2016 bisa didapatkan melalui media sosial ICS 2016 dengan cara follow Twitter-nya di @ics_expo, follow Instagram-nya di https://www.instagram.com/ics.expo/ atau dengan mengunjungi Facebook-nya di Ics Jakarta serta mengunjungi website-nya di http://ics-expo.com/

Di balik penjurian kontes foto “Pasar Rakyat”

Setelah berakhir pada 14 Mei 2016 lalu, kontes foto Pasar Rakyat yang diselenggarakan oleh Fotokita.net bekerja sama dengan Yayasan Danamon Peduli memasuki tahap penjurian. Selama dua bulan periode lomba, terdapat 7.027 foto yang masuk dan siap dikurasi. Dewan juri yang berpartisipasi dalam proses penjurian kontes…

Fotokita.net hadir di Pameran Foto “Immortal”

Telefikom Fotografi, Wadah Kegiatan Mahasiswa (WKM) pencinta fotografi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), mengadakan pameran foto bertema “IMMORTAL”. Immortal, dalam bahasa Indonesia berarti ‘keabadian’, memiliki makna mengabadikan apa pun yang ingin diabadikan oleh si fotografer, untuk dinikmati pemirsa atau pengunjung pameran.

poster immortal

Acara ini juga merupakan cara rekan-rekan Telefikom Fotografi menuangkan ide serta kreativitas dalam menyampaikan pesan-pesan dan nilai-nilai keindahan dalam bentuk visual.

Pameran berlangsung mulai Sabtu, 21 Mei 2016, di Historia Gallery, Kota Tua, Jakarta, menampilkan 23 peserta dan 129 foto. Sebagai bagian dari rangkaian acara pameran, pada Selasa (24/5) akan ada seminar “IPPHOS” oleh Arbain Rambey pada pukul 14.00 WIB, dan seminar “Mengoptimalkan Foto Cerita dengan Steller” oleh Zulfiq Ardi Nugroho (Designer National Geographic Indonesia), pada pukul 16.00.

Sementara pada Rabu (25/5), ada Workshop “Fotografi Fashion” oleh Irfan Hartanto pukul 13.00. Esoknya, berlangsung seminar “Etno Photography” oleh fotografer kawakan, Don Hasman, pada pukul 14.00, dan seminar “Street Photography” oleh Haris SYN.

Jadi, bagi FK-wan yang belum memiliki agenda pada hari-hari tersebut, silakan merapat ke acara menarik ini.

Pameran foto “Metamorphosis of Japan after War”

Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada bulan Agustus 1945, tahap akhir Perang Dunia Kedua. Dua operasi pengeboman yang menewaskan sedikitnya 129.000 jiwa ini merupakan penggunaan senjata nuklir masa perang untuk pertama dan terakhir kalinya dalam sejarah.

_MG_5496

_MG_5554

_MG_5557

Saat itu, Jepang benar-benar hancur. Namun, bagaimana negara itu kembali bangkit dari keterpurukan? Pertanyaan ini akan terjawab jika FK-wan datang ke pameran foto “Metamorphosis of Japan after War” di Bentara Budaya Jakarta.

Pameran ini terselenggara pada 17—30 Mei mendatang. Tak hanya pameran foto, nantinya akan diputar film Jepang yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di antaranya Higanbana, Ugetsu Monogatari, Tokyo Monogatari, dan Izu no Odoriko pada 18 dan 26 Mei 2016. Workshop fotografi bertema “The Shadow of The Past” dengan pembicara Feri Latief juga akan diadakan pada 21 Mei 2016. Selain itu, ada juga diskusi sejarah Jepang pascaperang pada 24 Mei 2016.

_MG_5559

_MG_5565

_MG_5576

_MG_5595

Terdapat 11 fotografer yang ikut serta, yakni Ihee Kimura, Ken Domon, Tadahiko Hadayashi, Yasuhiro Ishimoto, Hiroshi Hamaya, Ikko Narahara, Shomei Tomatsu, Kikuji Kawada, Shigeichi Nagano, Takeyoshi Tanuma, dan Eikoh Hosoe. Karya-karya foto yang dipamerkan dikuratori oleh Tsuguo Tada dan Marc Feutsel.

Pameran foto “Metamorphosis of Japan after War” digelar menjadi tiga bagian, yakni The Aftermath, Between Tradition and Modernity, dan Towards a New Japan. Jika disimak saksama, tiga bagian pameran ini menggambarkan bagaimana Jepang hancur karena bom, hingga bangkit menjadi negara yang modern. Selain itu, menurut kurator, pameran ini menyuguhkan perspektif orang asing yang tidak pernah mengalami secara langsung hidup di Jepang pada masa perang. —Rahmad Azhar