Pameran foto Imaji #2 tampilkan evolusi proses cetak foto

40 x 40cm Gum Bicromatte pada kertas

40×40 cm
Gum Bicromatte pada kertas

Fotografi telah berumur hampir dua abad. Ia sempat mengalami evolusi dan revolusi. Rupa fotografi yang terlihat saat ini merupakan hasil dari kedua dinamika budaya fotografi tadi. Ada banyak peninggalan budaya fotografi yang diwariskan kepada generasi penerusnya. Sebagian terus dikembangkan, sebagian lagi berhenti sebagai artefak dari ide-ide teknologi yang jarang dibuka lagi.

Di antara sekian banyak ide yang diwariskan para pendahulu fotografi ialah teknologi cetak-mencetak, atau proses visualisasi imaji fotografi. Tahun 1826 merupakan titik awal keberhasilan manusia dalam menciptakan imaji fotografi yang permanen melalui penemuan Joseph Nicéphore Niépce. Penemuan ini pada kemudian hari diteruskan oleh ilmuwan lain seperti Louis-Jacques-Mandé Daguerre dengan teknik cetak Daguerreotype, William Henry Fox Talbot dengan teknik Calotype, Sir John Herschel dengan penemuan Cyanotype-nya, serta ilmuan-ilmuan lainnya.

Edial Rusli 50x70cm Cyanotype Cetak pada Kain

Edial Rusli
50x70cm
Cyanotype Cetak pada Kain

Irwandi 20x30cm Cyanotype Cetak pada Kertaas

Irwandi
20x30cm
Cyanotype Cetak pada Kertaas

Kurnia Yaumul Fajar Vandyke dan Handcoloring pada kertas Reproduksi karya foto Nickolas Muray

Kurnia Yaumul Fajar
Vandyke dan Handcoloring pada kertas Reproduksi karya foto Nickolas Muray

Hasilnya, fotografi sebagai sebuah ranah visualisasi kini mewarisi puluhan metode cetak yang dahulu sempat mendunia. Kini ide-ide budaya tersebut terabadikan dalam artefak-artefak yang masih dapat dipelajari kembali. Ide-ide itu kini disebut sebagai old photographic processes.

Pameran Imaji #2 yang bertajuk “Alternative Photographic Processes” merupakan salah satu hasil dari pembacaan kembali artefak-artefak budaya fotografi masa lalu, khususnya ide teknologi cetak foto pada abad ke-19. Dalam pameran ini ditampilkan karya-karya terpilih yang dibuat dengan menerapkan metode cetak fotografi masa lalu, di antaranya cyanotype/blue print, vandyke/brown print, dan gum bichromate.

Mengingat kesemuanya merupakan temuan fotografi abad ke-19, berarti para peserta memamerkan foto-foto yang mereka buat secara non-masinal atau “main tangan”. Untuk membuat karya semacam ini, mereka harus terlebih dahulu meracik ramuan bahan kimia agar mendapatkan emulsi peka cahaya, mengaplikasikannya ke atas media yang dijadikan “kertas foto”, serta memprosesnya agar menghasilkan imaji fotografis yang khas dan layak pamer.

Khairunisa 50x25 Vandyke pada kertas

Khairunisa
50×25 Vandyke pada kertas

Isroviana 25x25cm Vandyke

Isroviana
25x25cm Vandyke

Pameran berlangsung mulai 8 hingga 12 Juni 2016. Pembukaan dilakukan pada Jumat lalu (3/6) bertempat di Kafe Neo, Galeri Foto Jurnalistik Antara. Sebagai informasi tambahan, dalam pameran ini juga dijabarkan secara singkat beberapa proses cetak fotografi yang digunakan. Ini dilakukan untuk memberi gambaran kepada pemirsa tentang proses yang harus dilakukan oleh para pengkarya dalam pameran ini.

Fotokita hadir di Indonesia Cellular Show 2016

index

FK-wan, saat ini, siapa yang tidak pernah memotret menggunakan kamera gawai? Sepertinya tidak ada. Perkembangan teknologi perangkat bergerak begitu pesatnya, termasuk teknologi kamera yang dijejalkan di dalamnya, membuat setiap orang bisa menjadi fotografer dengan hanya bermodal kamera gawai. Tetapi, bagaimana cara mengoptimalkan hasil jepretan kita sehingga memiliki kualitas yang berbeda dengan kebanyakan orang?

Semua akan dibahas dalam sesi berbagi dan diskusi bertajuk “Kiat Lihai Fotografi Gawai” di ajang Indonesia Cellular Show (ICS), pada 4 Juni 2016, di Stage Hall A, Jakarta Convention Center, pukul 15.00-16.00 WIB. Hadir sebagai pemateri adalah Yunaidi, fotografer National Geographic Indonesia yang mewakili Fotokita.net.

ICS 2016 adalah pameran yang diselenggarakan oleh Dyandra Promosindo yang bekerja sama dengan ATSI (Asosiasi Penyelenggara Jasa Telekomunikasi Seluruh Indonesia) dan ini merupakan pameran yang ke-13 kalinya diadakan. Pameran ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya pameran telekomunikasi berorientasi retail di Indonesia, di mana pameran ini merupakan ajang yang mendekatkan para operator telekomunikasi Indonesia dengan pengunjung langsung dan mereka dapat berinteraksi secara langsung pula untuk mendapatkan berbagai macam informasi terkini terkait industri selama pameran.

ics1

Tahun ini tema yang dipilih dalam pameran ini adalah Digital Revolution yang mana hal tersebut sejalan dengan kampanye yang didukung penuh oleh pemerintah, yaitu revolusi digital akan merevolusi perekonomian Indonesia. Jadi pada ajang Indonesia Cellular Show 2016 kali ini merupakan implementasi nyata para penyelenggara jasa telekomunikasi untuk mewujudkan revolusi digital dan menunjukkan kepada khalayak umum bahwa para penyelenggara jasa telekomunikasi inilah yang menjadi tulang punggung revolusi digital yang telah dicanangkan pada akhir tahun lalu.

Indonesia Cellular Show (ICS) 2016 sendiri akan diadakan selama 4 hari yaitu dari Kamis sampai dengan Minggu pada 2 – 5 Juni 2016 yang bertempat di Jakarta Convention Center (JCC) yaitu di Hall A, Hall B, dan juga Cendrawasih Hall. Dalam ICS 2016 tentunya akan hadir banyak tenant mulai dari dari operator, device, network, applications, dan masih banyak lagi yang akan menghadirkan koleksinya serta banyak penawaran menarik. Selain itu akan ada juga acara Temu Pelanggan Seluler (TPS) 2016, seminar, workshop & serta penampilan artis terkemuka yang tentunya akan menghibur para pengunjung yang datang ke ICS 2016.

Informasi selengkapnya terkait Indonesia Cellular Show (ICS) 2016 bisa didapatkan melalui media sosial ICS 2016 dengan cara follow Twitter-nya di @ics_expo, follow Instagram-nya di https://www.instagram.com/ics.expo/ atau dengan mengunjungi Facebook-nya di Ics Jakarta serta mengunjungi website-nya di http://ics-expo.com/

Di balik penjurian kontes foto “Pasar Rakyat”

Setelah berakhir pada 14 Mei 2016 lalu, kontes foto Pasar Rakyat yang diselenggarakan oleh Fotokita.net bekerja sama dengan Yayasan Danamon Peduli memasuki tahap penjurian. Selama dua bulan periode lomba, terdapat 7.027 foto yang masuk dan siap dikurasi. Dewan juri yang berpartisipasi dalam proses penjurian kontes…

Fotokita.net hadir di Pameran Foto “Immortal”

Telefikom Fotografi, Wadah Kegiatan Mahasiswa (WKM) pencinta fotografi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), mengadakan pameran foto bertema “IMMORTAL”. Immortal, dalam bahasa Indonesia berarti ‘keabadian’, memiliki makna mengabadikan apa pun yang ingin diabadikan oleh si fotografer, untuk dinikmati pemirsa atau pengunjung pameran.

poster immortal

Acara ini juga merupakan cara rekan-rekan Telefikom Fotografi menuangkan ide serta kreativitas dalam menyampaikan pesan-pesan dan nilai-nilai keindahan dalam bentuk visual.

Pameran berlangsung mulai Sabtu, 21 Mei 2016, di Historia Gallery, Kota Tua, Jakarta, menampilkan 23 peserta dan 129 foto. Sebagai bagian dari rangkaian acara pameran, pada Selasa (24/5) akan ada seminar “IPPHOS” oleh Arbain Rambey pada pukul 14.00 WIB, dan seminar “Mengoptimalkan Foto Cerita dengan Steller” oleh Zulfiq Ardi Nugroho (Designer National Geographic Indonesia), pada pukul 16.00.

Sementara pada Rabu (25/5), ada Workshop “Fotografi Fashion” oleh Irfan Hartanto pukul 13.00. Esoknya, berlangsung seminar “Etno Photography” oleh fotografer kawakan, Don Hasman, pada pukul 14.00, dan seminar “Street Photography” oleh Haris SYN.

Jadi, bagi FK-wan yang belum memiliki agenda pada hari-hari tersebut, silakan merapat ke acara menarik ini.

Pameran foto “Metamorphosis of Japan after War”

Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada bulan Agustus 1945, tahap akhir Perang Dunia Kedua. Dua operasi pengeboman yang menewaskan sedikitnya 129.000 jiwa ini merupakan penggunaan senjata nuklir masa perang untuk pertama dan terakhir kalinya dalam sejarah.

_MG_5496

_MG_5554

_MG_5557

Saat itu, Jepang benar-benar hancur. Namun, bagaimana negara itu kembali bangkit dari keterpurukan? Pertanyaan ini akan terjawab jika FK-wan datang ke pameran foto “Metamorphosis of Japan after War” di Bentara Budaya Jakarta.

Pameran ini terselenggara pada 17—30 Mei mendatang. Tak hanya pameran foto, nantinya akan diputar film Jepang yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di antaranya Higanbana, Ugetsu Monogatari, Tokyo Monogatari, dan Izu no Odoriko pada 18 dan 26 Mei 2016. Workshop fotografi bertema “The Shadow of The Past” dengan pembicara Feri Latief juga akan diadakan pada 21 Mei 2016. Selain itu, ada juga diskusi sejarah Jepang pascaperang pada 24 Mei 2016.

_MG_5559

_MG_5565

_MG_5576

_MG_5595

Terdapat 11 fotografer yang ikut serta, yakni Ihee Kimura, Ken Domon, Tadahiko Hadayashi, Yasuhiro Ishimoto, Hiroshi Hamaya, Ikko Narahara, Shomei Tomatsu, Kikuji Kawada, Shigeichi Nagano, Takeyoshi Tanuma, dan Eikoh Hosoe. Karya-karya foto yang dipamerkan dikuratori oleh Tsuguo Tada dan Marc Feutsel.

Pameran foto “Metamorphosis of Japan after War” digelar menjadi tiga bagian, yakni The Aftermath, Between Tradition and Modernity, dan Towards a New Japan. Jika disimak saksama, tiga bagian pameran ini menggambarkan bagaimana Jepang hancur karena bom, hingga bangkit menjadi negara yang modern. Selain itu, menurut kurator, pameran ini menyuguhkan perspektif orang asing yang tidak pernah mengalami secara langsung hidup di Jepang pada masa perang. —Rahmad Azhar

Pemenang #FKChallenge #Geowisata edisi Ujung Kulon

Inilah tiga FK-wan yang berhak mengikuti trip Geotour Jakarta-Ujung Kulon bersama Blacktrailers Community. Selamat menjelajah! Selamat kepada para pemenang! Bagi FK-wan yang belum beruntung, simak terus Fotokita.net untuk perjalanan Geotour berikutnya.

Para Pemenang Panorama Awards 2016

Panorama merupakan sebuah organisasi berbentuk federasi yang mewadahi klub-klub fotografi mahasiswa yang berada di bawah naungan sebuah lembaga perguruan tinggi. PANORAMA saat ini beranggotakan 24 klub fotografi dari 22 perguruan tinggi di Jakarta, Tangerang, Depok, dan Bekasi.

Tahun ini, mereka mengadakan event Panorama Awards 2016, yang diselenggarakan di Jakarta pada 6-20 Mei 2016 di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), Jakarta. Ratusan orang anggota Panorama akan ikut ambil bagian dalam kegiatan ini untuk menunjukkan kemampuan dan jati diri berupa hasil karya foto terbaik mereka.

Panorama Awards 2016 juga memberikan penghargaan bagi mahasiswa/i yang telah mendedikasikan dirinya bagi kemajuan dunia fotografi tingkat perguruan tinggi, serta adanya penghargaan untuk Best Exhibition; penghargaan bagi unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang memiliki pameran terbaik.

Karya foto terbaik terdiri dari 12 kategori, yaitu alternatif, arsitektur, budaya, fesyen, jurnalistik, konseptual, landscape, portrait, stage, still life, essay dan story. Karya foto terbaik akan dipamerkan dalam acara Anugerah Panorama Awards 2016 di GFJA. —Rahmad Azhar

Keterangan caption : Nama fotografer_Klub_Kategori_Judul

1, FaisalRahman_DuaMata_Stage_01_Remembering ''ThePerformers''

Faisal Rahman_DuaMata_Stage_Remembering ”ThePerformers”.jpg

1. ari firmansyah_focus_ arsitektur_skyscape (1) (2)

Ari Firmansyah_Focus_ Arsitektur_Skyscape

1. Danny_Telefikom_Fashion_02_Anne Avantie Heart

Danny_Telefikom_Fashion_Anne Avantie Heart

1. fahmmy_telefikom_02_Silence Rachel Theresia

Fahmmy_Telefikom_Silence Rachel Theresia

1. Iqbal_Visual Fotografi_Still Life Umum_01_Blood Drop

Iqbal_Visual Fotografi_Still Life Umum_Blood Drop

1. m.firdiansyah_skraf_sport (backside air)

M.firdiansyah_Skraf_Sport_Backside air

Petisi untuk Ahok

Muhammad Rahaddis Adiyoga_DuaMata_PIN_PetisiUntukAhok

1. NE_ArifSyarifudin_DampakPembangunan

Arif Syarifudin_DampakPembangunan

1. Nurul Ramadhan_KMF KALACITRA_Merdeka Indonesiaku

Nurul Ramadhan_KMF KALACITRA_Merdeka Indonesiaku

Iqbal_Visual Fotografi_Teknik Alternativ_01_Drowning

Iqbal_Visual Fotografi_Teknik Alternativ_Drowning

Berkelana ke Pengujung Nusa

Pagi masih samar kala saya benamkan kaki dalam-dalam di pantai berona gading. Air datang bergulung, lalu membawa pergi pasir, membuat saya seolah tersedot ke dasar.

Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon

Ini kali ke dua saya menyambangi Taman Nasional Ujung Kulon yang seperti namanya, tentu saja terletak di ujung barat Pulau Jawa. Sepuluh tahun silam saya mendirikan tenda dan tidur beralas pasir beratap Galaksi Bimasakti di Pulau Panaitan, kini saya menghabiskan malam di penginapan Pulau Peucang.

Pagi itu saya tak sendiri. Ada rusa-rusa yang merumput sejak subuh menjelang, Juga babi hutan bersama anak-anak mereka yang ramai menguik-nguik mencari makanan. Monyet-monyet ekor panjang berkeliaran di sekitar pantai termasuk di depan penginapan, siap memasuki kamar-kamar yang tak terkunci untuk mencari makanan di dalam tas saat penghuninya pergi. —Titania Febrianti, dari National Geographic Traveler edisi April 2015


Fotokita.net bersama Blacktrailers Community menyelenggarakan geotour bareng, dengan edisi perdana ke Taman Nasional Ujung Kulon 20-22 Mei 2016. Simak terus info-info di Blog Fotokita.net, Instagram @fotokitaid, Instagram @geotour.id atau Twitter @fotokitanet untuk mengetahui bagaimana cara berpartisipasi dalam perjalanan selanjutnya.

Panorama Awards 2016

Persatuan Fotografi Mahasiswa se-Jakarta dan sekitarnya (Panorama) bulan ini menyelenggarakan Panorama Awards 2016 bertempat di Galeri Foto Jurnalistik Antara, berlangsung 6-20 Mei 2016. Bertajuk “JEJAK” yang diartikan dari berbagai sudut pandang penikmat foto atau bentuk visualisasi keselarasan dari apa yang dilihat, dipikirkan, dan dirasakan dari…