Lasem adalah sebuah kota kecamatan di pantai utara Jawa yang terletak sekitar 15 km dari kota Rembang ke arah timur. Lokasinya sangat strategis karena ada ditengah-tengah jalan utama (dulu disebut sebagai grotepostweg pada jaman kolonial Belanda atau jalan raya pos) yang menghubungkan antara Surabaya dan Semarang.

Lasem sudah dikenal sbg kota pelabuhan semenjak abad ke-7. Namun baru dikenal sbg kerajaan pada tahun 1351, saat kerajaan Majapahit masih berjaya. Rajanya bernama Dewi Indu (bergelar Bhre Lasem) yg masih terhitung sepupu Raja Hayam Wuruk. Pada masa itu Lasem menjadi kota pelabuhan ramai dan menjadi vital posisinya. Pelabuhan terletak di daerah Kiringan, Regol & Bonang Binangun.

Kedatangan orang Cina pertama di Lasem tercatat pada abad XV (1411-1416), namanya Hanafi seorang Cina muslim utusan dinasti Ming yg berasal dari wilayah Yunan. Ialah pelopor pendirian pemukiman di Lasem. Baru setelah itu masuklah orang-orang Hokkian yg menganut agama Kong Hu Cu.

Pada masa Mataram Islam, Lasem menjadi wilayah yg disebut sbg Pasisiran, setelah ditundukkan oleh Sultan Agung antara thn 1613 s/d 1645. Penguasanya bernama Ngabehi Martanata, bekas penguasan wilayah Jepara - Pati. Pada jaman kolonial Belanda, Lasem masih menjadi bagian dari wilayah Mataram yakni masa pemerintahan aPkubuwono II (1726 - 1749). Pada waktu itu terjadi pemberontakan etnis Cina yg meluas hingga wilayah Semarang yg dipimpin oleh Mas Garendi atau sering disebut sbg SUNAN KUNING, yg kemudian berhasil menyingkirkan PB II sampai ke Ponorogo. Lasem kemudian dikuasai oleh Ingabehi Anggajaya thn 1749, bupati yg membawahi wilayah Rembang, Juwana, Pati & Kudus atas bantuan Belanda.

Pada periode tanam paksa, Lasem merupakan bagian dari jalur jalan raya Daendels dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Gresik). Di Lasem jalan raya dibangun mengikuti garis pantai, mengikuti morfologi alamnya.

Di masa modern ini Lasem terkenal sbg kota tua bernuansa Cina. Pengaruh kebudayaan China terasa mendominasi pada banyak segi kehidupan kota. Banyak sekali peninggalan bangunan-bangunan tuanya yang sudah berusia ratusan tahun selain indah juga unik, kebanyakan bernuansa arsitektur khas Cina meski ada juga yang bernuansa eropa klasik. Tidak salah jika kota Lasem pernah dijuluki ”The Little Beijing Old Town” oleh seorang peneliti eropa zaman kolonial. Oleh orang Prancis dulu dijuluki "Petit Chinois" yg artinya China kecil.

Bangunan-bangunan tua ini terletak di desa Babagan, Gedong Mulyo, Karang Turi, Soditan, Sumber Girang dan Ngemplak. Sebagian besar bangunan itu masih terpelihara dengan baik walaupun ada sebagian yang di biarkan terbengkalai. Sejak tahun 1986 Pemda Rembang menetapkan bangunan-bangunan tersebut sebagai bagunan cagar budaya yang harus dilindungi keberadaannya. Meski ada juga pemiliknya yg merenovasi namun tidak banyak & hanya bagian tertentu saja yg mana tidak merubah bentuk bangunan intinya.

Pertanyaannya adalah sampai kapan heritage berupa rumah & bangunan kunonya akan bertahan. Karena Lasem memang tidak seberuntung kawasan kota tua Jakarta misalnya yang cukup berhasil merevitalisasi beberapa bangunan tuanya. Dengan semakin meningkatnya populasi di Lasem khususnya di daerah Pecinan, dikhawatirkan akan terjadi pemugaran secara drastis yang disesuaikan dengan perkembangan lingkungan. Hal itu tentulah menjadi tanggung jawab bersama Pemda Rembang & seluruh warganya. Jika tidak ada kepedulian tidak mustahil rumah & bangunan kuno di Lasem kelak hanya akan jadi sekedar cerita orang tua kepada anak cucunya.