Foto Kita

Catatan Perjalanan: Susahnya memotret anak jalanan (bag. 1)

Entri oleh Feri Latief / January 27th, 2010

(Bella, bukan anak jalanan tapi waria yang baru saja akan memulai harinya dengan mengamen di stasiun Beos Kota)

Pagi ini (26/01/10) saya mulai mengerjakan sebuah assignment foto story tentang anak jalanan. Setelah mengadakan riset saya membuat shotlist. Dan pagi tadi saya mulai mengerjakan daftar pertama di shotlist saya: Stasiun Beos Kota. Di sana memang salah satu pangkalan anak jalanan. Hal tersebut dimungkinkan karena salah satu pintu masuk anak-anak jalanan itu ke ibukota adalah lewat jalur transportasi kereta api. Karena memang kebanyakan anak jalanan berasal dari luarkota dan mereka menggunakan kereta api untuk sampai di Jakarta. Dan stasiun keretalah jadi muaranya.

Mereka ke Jakarta dengan berbagai alasan. Ada yang kabur dari rumah karena ayahnya kawin lagi dan memiliki ibu tiri yang galak. Ada yang yatim piatu dan sengaja pergi ke Jakarta agar tak menjadi beban saudara atau kakek neneknya yang sudh tua. Ada yang memang dibolehkan orantuanya karena orang tuanya peminta-minta atau mengamen di kota lain. Pagi itu saya berkenalan dengan beberapa anak jalanan yang kebanyakan berasal dari daerah Banten. Ada Andri, Eko, Yayan, Sofyan, Mohawk dan Dika. Yang remaja putri berusia belasan ada dua orang, Rina dan Intan yang sekujur badannya dipenuhi tato.

Mereka semua sehari-hari memang mangkal di Stasiun Beos. Saya dengan mudah menemukan mereka. Dari atas kereta api yang saya tumpangi dari stasiun Juanda menuju Kota kelompok anak jalanan itu terlihat sedang nongkrong di atas rel sambil bermain cukelele. Saya hampiri mereka, saya tak langsung memotret tapi bergabung ikut nongkrong bersama mereka. Tampaknya mereka sedang santai sambil minum kopi di pagi hari yang kebetulan dingin karena habis diguyur hujan. Untuk lebih mengakrabkan diri saya pun memesan segelas kopi susu panas. Lewat kopi hangat itu pendekatanpun saya mulai.

Saya sama sekali tak mengeluarkan kamera, saya ajak mereka ngobrol, saya tanya asal mereka, nama dan lain-lain. Walau mereka hidup keras di jalan-jalan tapi tetap saja saya bisa menangkap kemurnian, kepolosan dan keceriaan mereka. Fitrah mereka sebagai anak-anak… Sambil ngobrol Andika mulai memainkan cukelelenya sambil bernyanyi. Nyanyian cinta, dia bernyanyi dibarengi koor teman-temannya. Saya mengeluarkan alat perekam suara dari tas saya, lalu saya minta Andika untuk memainkan lagu yang tadi dia nyanyikan untuk saya rekam. Sepertinya dia senang, lalu mulailah dia menyanyi, namun sayangnya dia terlihat grogi kerena direkam, suaranya tidak selantang tadi. Suaranya terdengar seperti orang ngedumel, perlahan. Sesekali kereta api yang lewat melibas suaranya.

Saya putar ulang rekamannya, mereka terlihat antusias dengan rekaman itu. Pendekatan yang saya lakukan untuk mendekatkan jarak saya dengan mereka. Karena assignment yang saya kerjakan ada satu yang ditekankan: cari portrait tersuram anak jalanan! Tujuannya untuk mengirim pesan kepada masyarakat luas bahwa masalah anak jalanan perlu perhatian serius! Perlu penanganan dengan pendekatan yang manusiawi. Bukan sekedar bikin target ‘Indonesia bebas anak jalanan tahun 2011′. Untuk mencari sisi tergelap memang syaratnya satu: selalu dekat dan lekat ke subyek. Dan kali pertama pemotretan tak saya jumpai sisi tersuram itu. Perlu waktu untuk bisa menggali hal yang terdalam dari mereka. Antara mereka dan saya masih berjarak. Tapi setidaknya saya bisa menggali dari mereka info titik-titik mana saja di Jakarta yang penuh dengan hal-hal suram kehidupan anak jalanan. Saya diperkenalkan oleh mereka istilah “wirid”, yaitu saling memangsa /mencuri uang atau harta di antara mereka ketika mereka tidur di malam hari. Masih perlu waktu bagi saya untuk bisa memotret seperti yang mereka bilang, sering dipalakin, atau suka “dikerjain” yang mengingatkan saya akan Babe yang baru-baru ini menyodomi dan memutilasi anak-anak jalanan. Saya hanya mendapat beberapa frame yang belum bisa menampilkan “greget” kehidupan anak jalanan. Malah seorang waria bernama Bella yang melintasi rel kereta api terekam dalam kartu ingatan saya, klik! Hai Bella….

23 komentar untuk artikel ini.

  1. ruli amrullah

    salut untuk usaha PDKTnya om!
    tabah sampai akhir Gan. :)

    di tunggu bagian 2 nya.

    January 27th, 2010 at 7:38 pm

  2. abel

    he..he..he…betul mas ruli, salut buat PDKTna. Hasil ‘Grounded Research’ nya moga berguna.

    January 30th, 2010 at 2:52 am

  3. Aland Anash

    Seru!!!
    ditunggu bag.2 nya mas,hehe…

    February 2nd, 2010 at 10:33 pm

  4. kneeta nita

    slowly but sure,mas…thanks buat foto bella-nya…kayak nya dia ‘megang” banget yah..hehehe..

    February 3rd, 2010 at 7:11 am

  5. edo

    thx sharingnya,
    ditunggu lanjutannya ya :D

    February 3rd, 2010 at 10:50 am

  6. novi adw

    great feri….bella is the highlight…we’ll wait for the next….keep up the good work brother…:-D

    February 4th, 2010 at 11:51 am

  7. harimurti wibowo

    berapa beruntungnya kita……

    February 4th, 2010 at 12:03 pm

  8. wede

    great job kang, dilanjutken :)

    February 4th, 2010 at 5:26 pm

  9. ivo arum dalu

    sering….sy jumpai anak jalanan…. pengamen2 cilik di bus2….. terminal pas dini hari.
    senang rasany bs kenal dg mereka.

    February 5th, 2010 at 12:00 am

  10. Ani

    Seru baca ceritanya aq suka…… ditunggu bag. 2 ok……..

    February 8th, 2010 at 3:51 pm

  11. Riska

    Wah..wah.. Om Latief, PDKT yg ajib! Lanjut Om!

    February 8th, 2010 at 11:21 pm

  12. doni tole

    sundul gan…di tunggu lanjutannya..

    February 9th, 2010 at 5:54 pm

  13. jejak annas

    bener gan, kalo sudah begini, yang bikin kita sukses dan hebat itu, adalah bisa melewati tantangan itu. kalo soal hasil akhir itu mah anggap saja bonus

    February 10th, 2010 at 9:32 am

  14. Alfred W. Djami

    Terima kasih untuk Pengalaman yang seru ini…
    di tunggu bagian II nya… :) Penasaran nih… ;)

    February 10th, 2010 at 11:39 am

  15. sepi

    maaf numpang saja dulu! Wah, hebat ya, kapan main ke jogja?

    February 11th, 2010 at 10:03 am

  16. ayun

    Berat memang, untuk bisa “ambil hati” mereka, karna perasaan curiga pasti ada sebagai alat perlindungan diri mereka.
    salut!!

    February 12th, 2010 at 12:27 pm

  17. flor

    ah keren skali fotonya : D
    lanjutkan! ditunggu ya yang berikutnya : )

    February 13th, 2010 at 3:47 pm

  18. Akmal

    om, krimin foto-foto ekslusif dari NG dong… please.

    February 14th, 2010 at 4:22 pm

  19. Arbar

    Ceritanya seru. Fotonya juga bagus.
    Ditunggu nih bagian 2-nya.

    February 16th, 2010 at 10:27 pm

  20. Em

    i like this article alot^^
    gimana perkembangannya sekarang? :)
    dulu saya pernah susun KIR tentang waria
    mungkin kapan2 bisa tukar info^^
    sukses yahh

    February 25th, 2010 at 8:13 pm

  21. Bege

    mana nih..lanjutannya..dah gak sabar pak nunggu ceritanya

    March 2nd, 2010 at 7:07 pm

  22. rarhubegeka

    full eksplorasi.dengan pendekatan seperti ini apa sih yang bener2x mo didapat oleh mas.keren.. saya suka.

    gambarnya “bella” candid ya mas?? mantap!!

    March 9th, 2010 at 12:49 am

  23. Naswan

    Nice picture…pure and natural expression from the subject…but you are not focus to your objective…Anak Jalanan…

    It would be better if you do your shoot list and directly take a picture of their activity…and after that you can communicate and discuss the reason of what and why without showing the picture. So, you got the moment and you got the comment… (^_^)

    nice one

    March 9th, 2010 at 6:02 pm

Kirim komentar