Ditulis oleh Haryo S.Gum / November 18th, 2008
Kenneth Kobre (dalam bukunya Photojournalism) mencontohkan dengan apa yang diterapkan Washington Post dalam menggolongkan sebuah foto berita, yakni: informational, graphically appealing, emotional dan intimate. Kategorisasi ini dibuat agar sebuah foto dapat menjawab rasa kehausan informasi sekaligus menyentuh nilai kemanusiaan, berdasarkan standar kecepatan untuk merekam peristiwa serta menyampaikan isu dengan kekuatan visual.
Namun ada satu hal lagi yang seharusnya dikandung oleh sebuah foto peristiwa, yaitu orisinal dan bukan hasil rekonstruksi termasuk rekayasa komputer grafis. Ini pulalah yang ditekankan dalam situs fotokita.net terhadap foto-foto kiriman para anggotanya.
Fotokita.net adalah situs yang berada dibawah naungan National Geographic Indonesia, sebagai sebuah media yang menjunjung tinggi penyampaian fakta visual seperti apa adanya namun dengan tetap mempertimbangkan kaidah estetika fotografi. Dalam foto jurnalistik, penambahan (manipulasi) elemen visual dalam suatu foto adalah hal yang diharamkan, kecuali pengoptimalan pencahayaan, kontras, dan saturasi warna, di mana hal tersebut pun berujung pada keperluan pencetakan semata.
Pada dasarnya semua foto yang dimuat di media massa disebut sebagai foto jurnalistik, termasuk foto-foto peristiwa yang tampil di media maya seperti internet. Artinya semua produk foto yang mempunyai nilai berita bisa disebut sebagai foto jurnalistik. Namun dalam perkembangannya, kebutuhan foto jurnalistik tidak berhenti untuk kepentingan pemberitaan. Produk foto bernilai berita kini juga tampil dalam pameran-pameran foto atau lomba foto.
Dalam foto jurnalistik terdapat beberapa kategori. Kategori ini tidaklah baku, karena hanya untuk membedakan bidang pemberitaan yang dibingkai oleh foto jurnalistik. Kategori tersebut antara lain :
Beberapa Kebiasaan
Seperti diuraikan di atas bahwa pada dasarnya semua foto yang dimuat di media massa adalah foto jurnalistik. Namun, tidak semua foto yang tampil di media massa itu memiliki bobot berita yang meliputi unsur standar 5W + 1 H. Tidak jarang sebuah foto hanya memiliki unsur 3W atau 4W tanpa 1H sehingga diperlukan teks foto untuk melengkapi unsur nilai beritanya.
Seringkali seorang pewarta foto dihadapkan pada peristiwa yang menuntut kecepatan berpikir untuk kemudian segera menekan tombol kameranya. Di saat seperti inipun sebenarnya seorang pewarta foto layaknya memiliki kebisaan untuk Stop, Look, Think dan Action. Artinya ; diam, lihat, berfikir dan aksi. Pendeknya jangan terburu melepaskan bidikan kamera.
Bagaimana dengan anda ? Punya pendapat atau pengalaman lain ?
Sumber: The Peace Journalism Option, Transcend Peace and Development Network, 1998.
Kenneth Kobre. Photojournalism, The Professional’s Approach, 2008
9 komentar untuk artikel ini.
Ahmad Zamroni
Tulisan yang menarik,
Dari sekian banyak macam dan definisi foto jurnalistik, ada hal yang sangat mendasar bagi seorang pewarta foto yaitu: To Tell the Truth
Ada tulisan dari DONA SCHWARTZ (School of Journalism and Mass Communication University of Minnesota) tentang hal ini yy cukup menarik, kutipannya bisa diliat di http://ahmadzamroni.multiply.com/journal/item/19/To_Tell_the_Truth_Codes_of_Objectivity_in_Photojournalism
Selamat berkarya,
salam, az
November 18th, 2008 at 5:09 pm
Daus
Wah, akhirnya bung Rony muncul juga dari pertapaannya. Tertarik untuk menulis di blog Fotokita pak?
November 18th, 2008 at 5:54 pm
Angki
Ini dia yang saya cari..!!!
Thx atas infonya
:thumb:
November 19th, 2008 at 9:06 am
Yan Arief
Artikel yang menarik,
Terima kasih atas pencerahannya
November 19th, 2008 at 11:14 am
zefanya putra
Artikel yang menarik,
terimakasih atas infonya
November 19th, 2008 at 7:08 pm
hanibal
makasih banyak om, sering-sering ya. sangat bagus buat saya.
November 26th, 2008 at 10:45 pm
gembong
seperti apa kata om don. yang terpenting adalah kejujuran.
November 26th, 2008 at 11:24 pm
idrisbendung
Pertama, Terima kasih oom infonya. Tambah ilmu nih, Tapi, jelasin lagi oom dengan contoh foto yang tidak punya 5 W- 1H. Dan hanya 3 W . Ok
December 7th, 2008 at 4:47 pm
Kadek Swarna
Saya selalu kagum dengan fotografer jurmalistik. Indonesia memiliki banyak tokoh yang bertalenta tinggi untuk kategori ini. Fotografi jurrnalistik memang tidak mudah (walaupun kelihatannya mudah). Artikel ini telah menguraikan bagaimana seorang fotografer jusrnalistik mesti memiliki kecepatan berpikir, bukan hanya kelihaian mengambil objek, kejelian melihat moment, tetapi juga keterampilan menentukan eksposure yang pas plus pilihan penggunaan alat (seperti lensa) yang tepat pula. Itulah dasar kekaguman saya. Karena itu, situs FK ini juga sangat menarik buat saya. Selain saya bisa belajar di sini, saya juga dapat menikmati karya-karya teman-teman yang sangat menarik.
December 24th, 2008 at 5:12 am